Prancis dan Jerman Desak Warganya Tinggalkan Etiopia

by admin
2 minutes read

Jakarta, BN Nasional — Pada Selasa, Prancis menyarankan warganya untuk meninggalkan Etiopia “tanpa penundaan”. Jerman juga meminta warganya untuk meninggalkan negara itu dengan penerbangan komersial pertama yang tersedia, mengikuti nasihat serupa oleh Amerika Serikat dan Inggris dalam beberapa pekan terakhir, dengan alasan situasi keamanan yang kian memburuk.

Pada Senin (22/11), Perdana Menteri Etiopia Abiy Ahmed mengatakan dia akan menuju ke garis depan untuk memimpin pasukan melawan pasukan Tigray karena harapan untuk solusi damai dalam perang selama setahun memudar.

Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan sedang “merelokasi sementara” keluarga staf internasional dari Etiopia. PBB menambahkan bahwa personelnya akan tetap berada di negara itu.

“Kami akan terus memantau situasi seiring perkembangannya, dengan mengingat keselamatan staf kami dan kebutuhan untuk terus berdiri dan memberikan serta melanjutkan operasi dan mendukung semua orang yang membutuhkan bantuan kami,” kata juru bicara Stephane Dujarric, Selasa.

Langkah itu dilakukan ketika pasukan Tigray mengklaim dalam beberapa pekan terakhir bergerak lebih dekat ke ibu kota, Addis Ababa.

Sebagian besar Etiopia utara berada di bawah pemadaman komunikasi dan akses bagi wartawan dibatasi, membuat klaim medan perang sulit untuk dikuatkan.

Tetapi para pejabat di Addis Ababa bersikeras pada Selasa (23/11) bahwa pasukan keamanan, termasuk kelompok pemuda, bekerja untuk memastikan perdamaian dan stabilitas ibu kota. Pajabat mengatakan kepada komunitas diplomatik untuk tidak khawatir. Pemerintah, yang telah menyatakan keadaan darurat enam bulan, sebelumnya juga menuduh saingan mereka melebih-lebihkan perolehan teritorial mereka.

“Propaganda dan pembicaraan teror yang disebarluaskan oleh media Barat sepenuhnya bertentangan dengan keadaan damai kota di lapangan, sehingga komunitas diplomatik tidak perlu merasa khawatir atau takut,” kata Kenea Yadeta, kepala Biro Perdamaian dan Keamanan Addis Ababa.

Samuel Getachew, seorang jurnalis independen di Addis Ababa, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ibu kota adalah “kota yang sunyi di malam hari” di tengah keadaan darurat yang sedang berlangsung.

“Ada banyak orang yang melarikan diri dari Addis Ababa, termasuk warga negara Prancis dan Turki,” katanya, seraya mencatat bahwa pengumuman Abiy bahwa dia menuju ke garis depan telah mengejutkan banyak orang.

Sumber.

related posts