Jakarta, BN Nasional – Banyak negara maju telah menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebagai sumber energi listrik. Salah satu teknologi reaktor nuklir yang digunakan di dunia adalah Molten Salt Reactor (MSR). Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Seaborg Technologies dari Denmark mengupayakan peningkatan pemahaman teknologi bahan bakar dan limbah radioaktif MSR dalam kegiatan bertemakan ‘Compact Molten Salt Reactor Seaborg, Fuel and Waste Treatment Technology‘, Selasa (13/12/2022).
Head of Business Development Seaborg Technologies Nikolaj Ager Hamann membeberkan, tentang teknologi Compact Molten Salt Reactor (CMSR) dan kelebihannya dalam kegiatan tersebut.
“Compact Molten Salt Reactor adalah teknologi generasi berikutnya yang dapat digunakan untuk menghasilkan energi listrik. Reaktor ini dapat dibuat berskala kecil atau Small Modular Reactor maupun skala menengah,” jelas Nikolaj.
“Kelebihan CMSR diantaranya adalah ukurannya yang lebih kecil dibandingkan reaktor konvensional pada umumnya. Dapat dibuat sebagian besar dari komponen bahan baku industri yang sudah tersedia, sehingga pembangunannya lebih mudah dan cepat,” tambahnya.
Menurut Nikolaj, CMSR cocok diterapkan di Indonesia karena reaktor tersebut dapat disesuaikan ukuran, tempat dan kebutuhannya, bahkan bisa ditempatkan diatas kapal laut yang berjalan.
“Reaktor juga bisa ditempatkan bersama-sama, misal 2 reaktor yang menghasilkan 200 MW, atau 4 reaktor yang menghasilkan 400 – 600 MW. Bahkan maksimal bisa 8 reaktor yang menghasilkan 800 MW,” katanya.
Tidak seperti kebanyakan reaktor jenis lain yang menggunakan bahan bakar padat, teknologi CMSR menggunakan bahan bakar cair yang dianggap lebih efisien. Selain itu moderator atau bahan perantara juga menjadi bagian penting dalam teknologi CMSR.
Nikolaj menambahkan bahwa bahan bakar CMSR stabil secara kimia dan produk fisi berumur pendek. Oleh karena itu secara radiologis limbahnya mirip dengan limbah radioaktif rumah sakit dan dapat ditangani dengan menggunakan metode konvensional.
“Garam bahan bakar yang tersisa akan dicampur ke dalam bahan bakar CMSR baru di fasilitas pemasok bahan bakar, sehingga tantangan penyimpanan jangka panjang akan dapat dihindari di masa mendatang,” jelasnya.
Nikolaj juga mengungkapkan bahwa konsep teknologi ini sudah lama dikembangkan sejak tahun 1958 namun kurang populer dibandingkan dengan teknologi lain dan belum dikomersialkan secara luas.
Dalam kesempatan ini, Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN Rohadi Awaludin menyampaikan, bahwa Indonesia memiliki target Net-Zero Emission (NZE) di tahun 2060, maka dari itu perlu ada sumber energi pengganti PLTU batu bara. “Kami percaya kalau energi nuklir akan menjadi sumber energi yang digunakan di Indonesia,” kata Rohadi.
Rohadi menjelaskan bahwa BRIN dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah berdiskusi mengenai roadmap untuk mencapai target NZE tersebut.
“Salah satu roadmapnya adalah energi nuklir dapat menghasilkan 5 atau 7 Gigawatt di tahun 2049, dan 35 Gigawatt di tahun 2060. PLTN dapat mendukung program pemerintah, yaitu dengan memulai penelitian terkait PLTN atau membangun PLTN yang bersifat komersial,” jelas Rohadi.
Menurut Rohadi kehadiran Seaborg Technologies Denmark dalam kegiatan ini dapat menambah pengetahuan terkait MSR yang merupakan teknologi baru di Indonesia.
“Ini kesempatan baik bagi kita, mempelajari teknologi nuklir yang cukup baru dan advance, yaitu Compact Molten Salt Reactor dari Seaborg Technologies, yang mungkin juga belum terlalu familiar di Indonesia,” jelasnya
Sementara itu Lektor Kepala Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan – Institut Teknologi Bandung (ITB), Sidik Permana menyampaikan bahwa teknologi Small Modular Reactor (SMR), dimana CMSR merupakan bagian dari teknologi SMR, merupakan pilihan alternatif dalam menyediakan penghasil energi listrik yang fleksibel dan dapat digunakan untuk berbagai macam pengaplikasian. SMR dapat berdiri sendiri atau terdiri dari beberapa reaktor.
“Dalam hal ini SMR memilki nilai lebih, yaitu jangka waktu pembuatan yang lebih pendek karena dibuat di pabrik seperti membuat kapal atau turbin, dan memiliki resiko finansial yang lebih kecil,” kata Sidik. (Louis)





