Pemerintah Pastikan Pasokan Energi RI Tidak Berdampak Akibat Perang Iran-Israel

JAKARTA, BN NASIONAL

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan pasokan energi nasional tidak mengalami gangguan akibat perang antar Iran-Israel yang sedang memanas.

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan, PT Pertamina (Persero) telah menyusun langkah-langkah untuk mengamankan energi agar tidak terjadi krisis energi.

“Indonesia sendiri stoknya cukuplah tergantung dari komoditasnya itu d iantara 17 sampai 30 hari,” kata Arifin dalam kegiatan halal bihalal bersama media di Kantor D itjen Migas Kementerian ESDM, Jumat (19/4/2024).

D iketahui, Israel d ikabarkan telah melancarkan serangan balasan terhadap Iran pada Jumat (19/4/2024) pagi waktu Indonesia. Serangan itu d iketahui setelah adanya ledakan di dekat Bandara Isfahan.

Panasnya tensi geopolitik di Timur Tengah saat ini makin membuat banyak negara khawatir, khususnya dari sisi ketahanan energi mengingat harga minyak mentah terancam membumbung tinggi.

Baca juga  Paten Amazon mengungkapkan bagaimana Alexa+ akan mengubah penemuan produk

Pemerintah telah meminta Pertamina sebagai perusahaan BUMN agar mengambil langkah pengamanan, khususnya terkait pengiriman dari daerah konflik.

“Termasuk juga untuk LPG, ini penting ya kalau punya beras tapi tidak bisa d imasak ya repot juga,” ujar Arifin.

Arifin juga mengatakan, harus ada persiapan yang matang untuk menjaga ketahanan energi. Dalam hal ini, d irinya menyinggung soal energi alternatif bagi komoditas yang d iimpor dari daerah konflik.

Misalnya untuk LPG, pemerintah memiliki program jaringan gas bumi (jargas) hingga kompor listrik. Apalagi untuk jargas, sumber gas bumi ke depan bakal melimpah dengan banyaknya temuan blok gas baru, seperti WK Masela.

Selain Blok Masela, terdapat pula Lapangan Maha, Gehem, hingga Geng North di Tanah Borneo dengan perkiraan puncak produksi di tahun 2027-2028. Tak tanggung-tanggung, RI bisa mendapat tambahan 3,5 TCF gas dari Lapangan Maha, Gehem, serta Geng North.

Baca juga  Temui Para Wanita yang Memberikan Perubahan yang Sangat Dibutuhkan pada Pemasaran dan Pendidikan Kecantikan

“Itu yang harus bisa kita optimalkan untuk nanti dikirim ke fasilitas LNG,” katanya.

Di lain sisi, Arifin mengakui proyek infrastruktur penunjang gas bumi masih harus dipersiapkan baik dalam jangka pendek maupun jangka menengah.

“Gas kita punya, listrik cukup, energi primer juga cukup. Tapi, infrastruktur untuk supply bisa sampai itu yang harus mungkin jangka menengah, jangka pendek, harus kita siapkan,” jelasnya.

Arifin berharap, konflik di Timur Tengah bisa mereda. Pasalnya, perang antara Iran dan Israel berdampak pada melesatnya harga minyak mentah.

Sempat turun ke level US$87 per barel, harga minyak mentah kembali melonjak ke US$90 per barel pagi tadi setelah serangan balasan dari Israel ke Kota Isfana, Iran.

“Mudah-mudahan cubit-cubitannya cukup ya kan udah cubit, cubit lagi, cukup, seri. Tapi Menteri Luar Negeri Iran bilang kita akan respons, gitu, nah ini yang kita khawatirkan,” ujarnya.*[]

Baca juga  Makanan super untuk lebah memicu booming koloni 15 kali lipat