JAKARTA, BN NASIONAL – Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) mengungkapkan, terdapat kurang lebih 800.000 kendaraan bermesi diesel termasuk Pajero Sport masih menikmati Biosolar Bersubsidi.
Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kemenko Marves Rachmat Kaimuddin mengatakan, subsidi untuk Biosolar lebih banyak jika dibandingkan dengan subsidi yang diberikan kepada Pertalite.
“Bensin sama solar, itu subsidi nya beda. Lebih tinggi jauh solar. Kalau lihat harganya di jalan, di tangki bensin, biosolar sama dexlite aja, beda jauh,” kata Rachmad dalam sesi diskusi di Jakarta, Senin (5/8/2024).
Menurutnya, subsidi dan kompensasi untuk Biosolar per liternya sebesar Rp4.966. Berbanding jauh dengan Pertalite yang hanya Rp1.596 per liter.
Rachmat memaparkan, satu unit mobil diesel yang disubsidi setara dengan mensubsidi 3,5 sampai 4,2 motor dengan asumsi rata-rata konsumsi mobil diesel sebanyak 477 liter sampai 573 liter per tahunnya.
“Subsidi itu yang menarik lagi nih, kalau dia diesel, karena dia lebih gede, walaupun diesel itu lebih hemat ya, kita asumsikan dia lebih hemat 30%, itu kan dia bisa dapat 11-13. Padahal, di Indonesia nggak ada mobil diesel LCGC sih. Mobil diesel kalau mau beli yang mana? Pajero Sport, Fortuner Diesel Land Cruiser. Nggak ada Agya Diesel ya. Terus terang agak mengusik rasa keadilan.” jelas Rachmat.
Selain mobil diesel, lanjut Rachmat, mobil bensin juga mengkonsumsi Pertalite subsidi lebih banyak 4 sampai 5 kali lipat dari konsumsi untuk motor.
“Kalau orang naik Agya, sama-sama isi pertalite, itu dapat 4 (motor). Kalau dia naik Inova, bisa dapat 5 (motor). Berarti orang yang naik motor, itu kita kasih seperlimanya orang yang naik Inova. Itu satu hal aneh kan, harusnya yang naik Inova dapat lebih sedikit atau malah dia tidak dapat,” ungkapnya.
Rachmat menyayangkan hal ini terjadi, pasalnya, uang yang digunakan untuk subsidi BBM tersebut tidak tepat sasaran dan banyak dinikmati oleh orang yang tidak berhak.
“Tapi isunya adalah pakai uangnya siapa? Tentunya pakai uang pemerintah, kalau kita pakai uang pemerintah, apakah pantas yang tadi yang mewah-mewah tadi itu masih tetap dapat berkali-kali lipat daripada yang teman-teman yang mungkin lebih membutuhkan,” jelasnya.





