JAKARTA, BN NASIONAL – Sejak dilakukan tajak sumur perdana Banyu Urip Infil Clastic (BUIC) di Blok Cepu milik ExxonMobill Cepu Limited (EMCL) pada Maret 2024 lalu, akhkirnya mulai on stream pada Jumat (9/8/2024).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, sumur ini menghasilkan 13.300 Barrel Oil Per Day (BOPD), sekaligus menandakan potensi migas di Indonesia masih bisa diandalkan.
“Ini kedua kalinya saya berdiri di panggung ini. Pertama, bulan Maret lalu pada saat kita mulai kegiatan drilling. Ada enam program drilling di sini dan waktu itu kita menyampaikan bahwa kita harapkan bisa dihasilkan, bisa berbuah pada tahun ini. Kemudian Bu Carol (Presiden ExxonMobil Indonesia) menyampaikan di akhir Agustus, saya minta Pak Dwi (Kepala SKK Migas) dan Bu Carol berkoordinasi untuk bisa menyelesaikannya sebelum 17 Agustus,” kata Arifin sesaat sebelum meresmikan Produksi Minyak Perdana Banyu Urip Infill Clastic Blok Cepu, Bojonegoro, Jawa Timur, Jumat (9/8/2024).
Diketahui, on stream ini merupakan sumur perdana yang masuk dalam program pengeboran 7 sumur yang terdiri dari 5 infil carbonate dan 2 clastic dengan pengeboran yang dilakukan dari tahun 2024 sampai 2026 mendatang.
“Selamat. Sumur pertama ini sudah bisa menghasilkan 13.300 barrel. Kita harapkan nanti sumur-sumur lainnya juga bisa memberikan kontribusi signifikan sekaligus memberikan impact besar untuk bisa mendorong para pebisnis migas di Indonesia bahwa masih ada potensi meningkatkan produksi migas kita karena saat ini di sektor minyak ini Indonesia ini defisit,” jelas Arifin.
Untuk ExxonMobil, Arifin memerintahkan ExxonMobil untuk agresif dalam melakukan eksplorasi dengan dukungan yang diberikan dari pemerintah.
“Harus segera dilakukan percepatan eksplorasi agar segera ada kepastian. Pemerintah memberikan dukungan bagi Exxon untuk melakukan kegiatan seismik dan eksplorasi baru di wilayah lain,” ujar Arifin.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengatakan, pemerintah memberikan perhatian khusus kepada ExxonMobil agar dapat menjaga produksi minyak di lapangan Banyu Urip yang menjadi kontributor nomor 2 secara nasional.
“Berkat berbagai upaya dan terobosan yang dilakukan oleh SKK Migas dan EMCL dalam menjaga kinerja lapangan, yaitu meningkatkan produksi dengan tetap memperhatikan kemampuan dan daya dukung reservoir yang ada,” kata Dwi.
Selanjutanya, sumur kedua akan mulai on stream pada kuartal 4 tahun 2024 sehingga akan memberikan tambahan produksi hingga 9.300 BOPD.
Dwi menyebut, investasi untuk pengeboran 7 sumur infil clastic ini sebesar US$ 204,5 juta atau setar Rp3,25 triliun (kurs Rp16.000 per U$) dan diperkirakan memberikan penambahan penerimaan negara sebesar US$2 miliar atau sekitar Rp32 triliun, serta diharapkan dapat memberikan tambahan minyak sebesar 42.92 MMSTB.
“Upaya-upaya tersebut dapat menjembatani potensi Indonesia dalam mencapai target 1 MMBOPD dan 12 BSCFD pada dekade ini. Potensi-potensi ini terus kita gali, tentunya demi meraih cita-cita jangka panjang untuk kemandirian energi,” jelas Dwi.
Presiden Direktur EMCL Carole J.Gall mengatakan, EMCL berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan energi Indonesia secara aman, andal, dan efisien.
“Kami bangga atas hasil menggembirakan dari program pengeboran BUIC dan kami berterima kasih kepada Kementerian ESDM serta SKK Migas atas kepemimpinan dan kerja sama yang luar biasa,” kata Carole.




