JAKARTA, BN NASIONAL – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan sumber Daya Mineral (ESDM) dan DPR mendorong PLTU Paiton menjadi percontohan nasional dalam penerapan teknologi energi bersih.
Kementerian ESDM menyoroti pentingnya transisi energi pada pembangkit berbahan bakar batu bara.
Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan, Wanhar, menyampaikan bahwa PLTU Paiton telah melakukan sejumlah studi untuk co-firing biomassa, bahkan menargetkan penggunaan hingga 100%.
“Dari KEN dan RUKN yang sudah disusun dan diterbitkan, posisi PLTU Paiton saat ini sudah melakukan study-study, di antaranya dengan upaya biomass dengan tujuan akhir 10% bahkan Paiton berkeinginan sampai 100%,” ujar Wanhar dalam keterangannya, Senin (14/4/2025).
Dalam dokumen RUKN, terdapat dua opsi penerapan energi bersih pada PLTU: co-firing biomassa 10% ditambah teknologi penangkap karbon (CCS), atau konversi penuh ke biomassa atau green ammonia.
“Bisa dengan co-firing biomassa 10% plus ditambah dengan penangkap karbon (CCS) atau bila mampu 100% yah 100%, bahkan di RUKN juga diberi kesempatan bisa diganti dengan green amonia,” jelasnya.
PLTU Paiton telah menerapkan co-firing biomassa sejak 2020 dan aktif dalam perdagangan karbon sebagai bentuk nyata mendukung target Net Zero Emission (NZE).
Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto, menegaskan posisi strategis PLTU Paiton dalam sistem kelistrikan nasional, yang menyumbang hampir 20% pasokan listrik di kawasan Jawa-Madura-Bali (Jamali).
“Jika ditambah dengan PLTU Suralaya hampir 50% listrik di 2 titik ini, maka keseimbangan pasokan listrik khususnya di sistem Jamali, sehingga Paiton memiliki posisi strategis,” kata Sugeng.





