JAKARTA, BN NASIONAL – Di tengah gejolak regulasi dan ketidakpastian ekonomi global sepanjang 2024, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau ANTAM justru berhasil mencetak kinerja gemilang.
Emiten tambang milik negara ini membukukan pendapatan tertinggi sepanjang sejarah perusahaan, mencapai Rp69,19 triliun, melonjak 69% dibandingkan tahun sebelumnya.
Tak hanya itu, laba tahun berjalan ANTAM juga tumbuh signifikan sebesar 25% menjadi Rp3,85 triliun pada tahun buku 2024 (FY24), dari sebelumnya Rp3,08 triliun di 2023 (FY23).
“ANTAM membuktikan ketangguhan Perusahaan dalam menghadapi tantangan sepanjang tahun 2024 yang dipengaruhi oleh dinamika regulasi serta ketidakpastian kondisi makroekonomi global,” tulis manajemen dalam keterangannya, Rabu (9/4/22025).
Kinerja positif ini turut tercermin pada peningkatan EBITDA sebesar 3% menjadi Rp6,73 triliun, serta laba usaha yang naik 15% menjadi Rp3 triliun. Peningkatan ini didorong oleh efisiensi beban usaha yang turun 5% menjadi Rp3,50 triliun, utamanya dari penurunan biaya logistik dan asuransi.
Keberhasilan ANTAM dalam menjaga performa juga ditopang oleh penjualan emas yang mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan. Pendapatan dari segmen ini naik 120% menjadi Rp57,56 triliun, berkat lonjakan harga emas dunia dan peningkatan permintaan dalam negeri. Volume penjualan emas ANTAM naik 68% menjadi 43.776 kg, seluruhnya dipasarkan di pasar domestik.
“ANTAM berhasil mempertahankan posisi di pasar sebagai top of mind pilihan masyarakat Indonesia dalam berinvestasi emas,” tulis manajemen, mengutip hasil riset konsultan independen.
Di segmen nikel, ANTAM membukukan pendapatan sebesar Rp9,50 triliun yang berkontribusi 14% terhadap total pendapatan. Meski menghadapi tantangan perizinan dan fluktuasi harga, volume produksi feronikel mencapai 20.103 ton nikel dalam feronikel (TNi), dengan penjualan 19.452 TNi ke Tiongkok, India, dan Korea Selatan.
Segmen bauksit dan alumina juga mencatat pertumbuhan. Pendapatan dari segmen ini naik 7% menjadi Rp1,80 triliun. Produksi alumina melalui anak usaha PT Indonesia Chemical Alumina mencapai 147.826 ton dengan penjualan 177.178 ton, naik 24% dibandingkan tahun sebelumnya.
Langkah diversifikasi dan hilirisasi ANTAM diperkuat dengan keterlibatan dalam proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah dan pembangunan pabrik logam mulia di Gresik, Jawa Timur. ANTAM juga menggandeng PT PLN untuk penyediaan listrik ramah lingkungan di smelter feronikel Pomalaa sebagai bagian dari roadmap dekarbonisasi menuju net zero emission 2060.





