Bahlil Bingung Tidak Ada Orang Indonesia Bisa Menaikan Lifting Minyak

JAKARTA, BN NASIONAL – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan isi hatinya yang bingung kenapa orang Indonesia yang pintar tidak bisa menaikan lifting minyak.

Lifting minyak Indonesia menyentuh titik tertinggi pada tahun 1997 sebanyak 1,52 juta barel per hari. Kemudian menurun sampai tahun 2007 sebesar 963 barel.

Kenaikan lifting minyak sendiri hanya pernah terjadi pada tahun 2008 dan 2016 dengan produksi dari lapangan Hiu Kerisi dan Belanak, serta Banyu Urip. Setelah produksi lapangan baru tersebut, lifting minyak Indonesia terus tergerus sampai kemarin akhir tahun 2024 sebesar 580 barel.

Bahlil mengatakan, penurunan lifting minyak ini merupakan penyakit berkelanjutan yang ada di Indonesia, sehingga ia menjadi bingung apa orang pintar di Indonesia tidak bisa meningkatkan lifting.

“Sampai saya bertanya apakah memang tidak ada orang Indonesia yang pintar untuk menaikan lifting ini. Data yang saya terima, yang saya diskusi, yang saya pelajari minyak kita ada tapi cara menaikannya tidak ada,” kata Bahlil dalam acara pelantikan Pejabat Tinggi SKK Migas di Kementerian ESDM, Rabu (26/2/2025).

Baca juga  Walau Miliki Banyak Timah, Pabrik Telepon di Bangka Belitung Kalau Tidak Lakukan Ini

Bahlil pun menceritakan selama dirinya menjabat sebagai Menteri ESDM selama 7 bulan membicarakan soal konsep saja tak kunjung usai.

“Masih muter-muter jelimet. Birokrasi ini, teknologi ini, jadi baru bicara konsep aja 7 bulan tidak selesai. Sampai ayam tumbuh gigi pun kalau begini terus susah negara meningkatkan produksi,” jelasnya.

Mengatasi hal tersebut, Bahlil memerintahkan Deputi Eksploitasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) yang baru dijabat Taufan Marhaendrajana untuk mendorong lifting minyak di tahun 2025 sebesar 630 ribu sampai 650 ribu barel per hari.

“Saya minta tolong untuk agar bagaimana caranya produksi lifting kita yang sekarang 580 ribu sampai 590 ribu (barel) itu bisa naik. Saya targetkan 2025 itu harus minimal 630 ribu sampai 650 ribu sambil menunggu intervensi teknologi,” ujar Bahlil.

Baca juga  Setelah 56 Tahun, Aziz dan Islam Bukan Pembunuh Malcolm-X