JAKARTA, BN NASIONAL – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan menghormati langkah Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang tengah menyelidiki proses tender proyek pembangunan pipa transmisi gas bumi Cirebon-Semarang (Cisem) Tahap II.
Namun, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengingatkan KPPU agar tidak membangun persepsi yang tidak berdasar.
“Jangan membangun persepsi liar. Tim ESDM telah bekerja sesuai aturan. Jika KPPU ingin membuktikan, silakan saja, kami terbuka,” ujar Bahlil dalam keterangannya, dikutip Selasa (31/12/2024).
Menteri Bahlil menegaskan bahwa Proyek Strategis Nasional (PSN) ini dilakukan dengan transparansi dan akuntabilitas, sesuai Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
Proses pengadaan dilakukan melalui Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa (UKPBJ) Kementerian ESDM dengan pengawasan ketat dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) dan Inspektorat Jenderal Kementerian ESDM.
Bahlil juga mengingatkan agar KPPU tetap profesional dalam menjalankan tugasnya dan berpegang pada prinsip praduga tak bersalah. Informasi yang disampaikan ke publik, katanya, harus proporsional dan didukung bukti kuat.
Cisem II merupakan bagian dari PSN yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2020. Setelah menghadapi kendala sejak 2006, proyek ini diputuskan dilanjutkan dengan pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk memastikan efisiensi.
Pendanaan APBN memungkinkan toll fee hanya mencakup biaya operasi dan pemeliharaan, sehingga harga jual gas menjadi lebih terjangkau. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing industri nasional serta mendorong pemanfaatan gas bumi bagi kebutuhan dalam negeri.
Pipa transmisi gas bumi Cisem II dirancang untuk menghubungkan wilayah strategis di Jawa Barat dan Jawa Tengah dengan total panjang 245 kilometer. Proyek ini diharapkan mampu:
-Mendukung gasifikasi industri di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal (10 MMScfd) dan Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang (25 MMScfd).
-Memenuhi kebutuhan gas untuk Kilang Balongan (24-44 MMScfd).
-Menutupi kekurangan pasokan gas pembangkit listrik di kawasan Jawa -Bagian Barat (189-200 MMScfd).
-Mendorong pengembangan jaringan gas untuk rumah tangga.
Proyek ini menjadi salah satu tonggak penting dalam memperkuat infrastruktur energi nasional sekaligus mendukung transisi energi yang lebih ramah lingkungan.
“Dengan tata kelola yang baik, kami optimis proyek ini berjalan lancar dan membawa manfaat besar bagi ekonomi dan masyarakat,” tutup Bahlil.





