Dirut PT Timah Buka Suara Soal Indikasi Ekspor Ilegal ke Malaysia

JAKARTA, BN NASIONAL

Tahun 2023 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi PT Timah Tbk (TINS) dengan mengalami penurunan produksi sebesar 23 persen. Di sisi lain, Malaysia Smelting Corporation (MSC), sebuah smelter timah asal Malaysia, mencatat pertumbuhan sebesar 10 persen, mengungguli TINS dan meraih posisi ketiga sebagai produsen timah terbanyak.

Berdasarkan data dari International Tin Association, produksi TINS dan MSC pada tahun 2023 masing-masing mencapai 15.300 ton dan 20.700 ton.

Melihat penurunan produksi TINS dan lonjakan produksi MSC, Komisi VI DPR RI mempertanyakan hal ini kepada TINS untuk memahami situasi di lapangan.

“Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Mohammad Hekal, menanyakan keberadaan produksi timah Malaysia,” tanya Hekal saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Direktur Utama TINS, pada Selasa (2/4/2024).

Hekal juga mencurigai adanya pasokan pasir timah dari Indonesia yang masuk ke smelter di Malaysia melalui jalur yang mungkin ilegal. Hal ini menjadi sorotan karena Indonesia telah lama melarang ekspor pasir timah.

Baca juga  Menteri Teten Masduki: UMKM sebagai Dinamisator Pemulihan Ekonomi

“Hekal menyatakan keheranannya atas produksi timah di Bangka Belitung yang berakhir di Malaysia. Saya tidak bisa memahami bagaimana Indonesia memindahkan batasnya seperti itu,” kata Hekal.

Menanggapi hal ini, Direktur Utama TINS, Ahmad Dani Virsal, menyampaikan bahwa memang ada laporan tentang peningkatan produksi timah di Malaysia.

“Produsen timah di Malaysia melaporkan peningkatan produksi. Mereka memiliki regulasi yang memungkinkan impor, jadi kita perlu pembuktian yang jelas,” kata Dani usai RDP.

Saat ditanya mengenai indikasi ekspor ilegal dari Indonesia oleh sejumlah penambang timah, Dani menolak untuk berspekulasi lebih jauh.

“Kami belum sampai pada tahap tersebut,” ujar Dani.*[]