Jakarta, BN Nasional – Hal ini juga yang mendasari otoritas moneter itu masih mempertahankan suku bunga pada level rendah 3,5%, meski Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) sudah menaikkan suku bunga acuan secara agresif.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Sahminan mengatakan bahwa setiap negara berkembang memiliki kecepatan pemulihan ekonomi tidak sama dengan negara lain. Denga demikian, arah kebijakan moneternya juga tidak bisa secepat atau mengikuti negara maju.
“Kecepatan pemulihan ekonomi domestik suatu negara tidak sama antara negara maju dan berkembang sehingga kebijakan yang diambil tidak bisa one size all atau serupa. Namun setiap negara memiliki bauran kebijakan yang bisa ditimbang, ditakar menyesuaikan dengan tantangan yang dihadapi negara tersebut,” ucapnya dalam Taklimat Media: Policy Mix, Jumat (15/7/2022).
Ia menjelaskan bahwa, normalisasi kebijakan yang dilakukan negara maju harus melalui komunikasi, perencanaan, dan kalibrasi yang baik agar tidak menimbulkan risiko pemulihan ekonomi negara berkembang.
Oleh karena itu, BI memastikan akan memperkuat koordinasi bersama Kementerian Keuangan dari sisi fiskal dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sisi makroprudensial.
“Kami memiliki berbagai instrumen dalam bauran kebijakan, kebijakan BI tahun ini ditujukan stabilisasi, policy makroprudensial sistem pembayaran pendalaman pasar keuangan dan UMKM, itu untuk dorong pemulihan pertumbuhan ekonomi,” ucapnya.
Sementara terkait laju inflasi AS yang sudah melonjak hingga 9,1% (yoy) tertinggi dalam 41 terakhir dan depresiasi rupiah Sahminan berpendapat BI terus mencermati dalam menentukan kebijakan arah suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur bulan ini.
Menteri Keuangan Sri Mulyani sebelumnyanya menyebut pengetatan kebijakan moneter global melalui likuiditas hingga menaikkan suku bunga acuan secara lebih agresif dari perkiraan telah berdampak terhadap aliran modal asing keluar (capital outflow) dari negara berkembang. Peningkatan risiko sisi moneter ini, akan terus diwaspadai karena dampaknya juga akan memberikan tekanan nilai tukar.
“Mengingat pengetatan kebijakan moneter global juga disertai dengan kondisi likuiditas. Negara-negara berkembang perlu semakin waspada akan kerentanan yang berasal dari arus keluar modal dan peningkatan biaya pembiayaan,” ucapnya dalam pembukaan 3rd Financial Ministers and Central Bank Governors Meeting (FMCBG), Jumat (15/7/2022).
Sumber: Investor Daily





