Indonesia Resmi Miliki Smelter Titanium Pertama

JAKARTA, BN NASIONAL

Indonesia segera memiliki fasilitas pemurnian (smelter) titanium pertama yang merupakan mineral ikutan komoditas timah berupa ilmenite.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana mengatakan, Titanium merupakan mineral yang berilai tinggi.

“Itu kan material yang bernilai tinggi. Kita kan ada yang pakai titanium. Itu kan material-material yang jumlahnya kan sedikit,” kata Dadan saat d itemui di Kementerian ESDM, Jumat (15/12/2023).

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita meluncurkan smelter titanium milik PT Bersahaja Berkat Sahabat Jaya di Bangka Belitung, Rabu (7/12/2023).

“Smelter titanium ini adalah tonggak sejarah dalam pengembangan sektor industri di Indonesia,” kata Agus dalam sambutannya, di Bangka, Kamis (7/12/2023).

Usaha ini d ibangun di Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung dengan investasi Rp1,3 triliun. Smelter ini memiliki kapasitas produksi 100 metrik ton per hari untuk memenuhi kebutuhan titanium di dalam negeri maupun global.

Baca juga  Ketegangan di Ukraina Meningkat, Presiden Biden Berbicara 50 Menit dengan Presiden Putin Lewat Telepon

“Smelter yang d iinisiasi oleh PT Bersahaja merupakan full Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Jadi pak D irjen (Ilmate) memang harus d idukung ini,” ujar Agus.

Selain titanium, PT Bersahaja juga akan melakukan hilirisasi mineral. Ini merupakan ikutan dari komoditas timah, seperti zirkon dan monazite yang dapat menjadi rare earth element, uranium, dan thorium.

“Rencana PT Bersahaja tidak berhenti d isini, terus melakukan pendalaman struktur melakukan hilirisasi yang lebih luas lagi,” katanya.

Kementerian Perindustrian terus memberikan dukungan berupa kemudahan dan mengawal perusahaan untuk melancarkan perkembangan industri mineral ikutan di dalam negeri.

“D irjen (Ilmate) kami juga akan menyiapkan berbagai insentif yang bisa kita siapkan,” kata Agus.

Dengan smelter tersebut, Indonesia dapat nilai tambah dalam industri ini, mengurangi ketergantungan pada impor. Bahkan dapat meningkatkan nilai tambah dalam rantai pasok industri.

Baca juga  Organisasi Perdagangan Dunia mengakhiri pertemuan di UEA setelah gagal mencapai kesepakatan besar

“Impor dari subsektor industri logam turun 24,97 persen year on year, sehingga neraca perdagangan Indonesia dalam subsektor industri logam mengalami surplus sebesar US$5,6 miliar. Investasinya juga sama untuk subsektor industri logam dasar itu tumbuh sebesar 9,5 persen termasuk yang d ilakukan oleh PT Bersahaja,” jelas Agus.

Usaha ini menghasilkan produk titanium slag dan inggot besi kualitas tinggi untuk baterai yang d igunakan dalam berbagai sektor industri. Dengan adanya smelter ini, Indonesia d iharapkan dapat menjadi pemasok titanium terkemuka di kawasan Asia Tenggara.

Direktur Utama PT Bersahaja Arbi Leo berterimakasih kepada Kementerian Perindustrian yang sudah memberikan dukungan untuk smelter titanium. PT Bersahaja terus melakukan inovasi sejalan dengan mandat pemerintah yang bertujuan menghilirisasi potensi mineral di setiap daerah.

“Masih sangat banyak yang bisa kita visikan hingga menjadi hilirisasi. Selain titanium, ke depan kita juga akan berupaya untuk mewujudkan smelter zirkonium. D itambah lagi, kita masih punya mineral ikutan hasil produknya yaitu monazite yang terdapat rare earth element dari 17 unsur yang ada,” kata Arbi.

Baca juga  Jejaring Sosial Zaman Es? Alat -alat batu kuno mengisyaratkan pengetahuan bersama

Arbi berharap, smelter ini sebagai langkah maju dalam meningkatkan sektor industri dan kemandirian negara dalam memproduksi titanium.

“Kami berharap PT Bersahaja dapat d idukung terus, sehingga dapat ikut memajukan daerah dan juga Indonesia,” ujarnya.(*)