Dalam beberapa bulan terakhir, muncul kembali minat terhadap masa lalu India, khususnya era Mughal. Orang-orang meninjau kembali sejarah dengan cara yang berbeda. Ada yang kembali ke buku pelajaran sekolah, ada pula yang menemukan video pendek dan postingan online yang memunculkan detail-detail yang terlupakan. Nama-nama seperti Babur dan Akbar kerap dibicarakan. Namun seorang kaisar, yang duduk tepat di antara keduanya, jarang dibicarakan. Penguasa itu adalah Humayun.Humayun adalah putra Babur dan ayah Akbar. Itu saja yang membuatnya penting. Namun yang membuat kisahnya tetap hidup hingga saat ini bukan hanya posisinya dalam silsilah keluarga. Begitulah akhir hidupnya. Berbeda dengan banyak penguasa pada masanya, Humayun tidak tewas dalam pertempuran atau karena konspirasi politik. Dia meninggal setelah terpeleset dan jatuh dari tangga perpustakaannya sendiri.
Sebuah momen yang mengubah segalanya
Pada Januari 1556, Humayun akhirnya berhasil kembali berkuasa setelah bertahun-tahun diasingkan. Dia tinggal di Purana Qila di Delhi. Di dalam benteng ada Sher Mandal. Itu adalah bangunan kecil berbentuk segi delapan yang diubah Humayun menjadi perpustakaannya. Dia suka menghabiskan waktu di sana, membaca dan mempelajari astrologi, seringkali berjam-jam.
Suatu malam, setelah azan, dia sedang menuruni tangga dan kehilangan keseimbangan. Jatuhnya menyebabkan cedera serius. Dia tidak selamat. Setelah berjuang bertahun-tahun untuk mendapatkan kembali tahtanya, hidupnya berakhir secara tiba-tiba dan tidak terduga.“Humayun terus berlari dan tersandung sepanjang hidupnya, dan dia mati karena tersandung.”Kalimat tersebut, yang ditulis oleh sejarawan Stanley Lane-Poole dan dikutip oleh lokal 18, mencerminkan pola kehidupan Humayun yang lebih luas. Dia kehilangan kerajaannya karena Sher Shah Suri, menghabiskan waktu bertahun-tahun berpindah dari satu tempat ke tempat lain, termasuk waktu di Persia, dan baru kemudian kembali untuk merebut kembali Delhi. Meski begitu, perdamaian tidak pernah benar-benar terjadi. Ketika stabilitas tampak memungkinkan, hidupnya tiba-tiba berakhir.
Sher Mandal: Dari ruang rekreasi hingga perpustakaan
Sher Mandal tidak dibangun oleh Humayun. Awalnya dibangun oleh Sher Shah Suri sebagai ruang untuk istirahat. Ketika Humayun kembali ke Delhi, dia mengubah fungsi bangunan tersebut. Itu menjadi perpustakaan dan observatoriumnya. Lantai atas terkenal dengan suasananya yang tenang, jauh dari kehidupan istana.Saat ini, bangunan tersebut ditutup untuk pengunjung. Berbicara kepada 18 warga setempat, sejarawan Vishwajit Kumar berkata, “Purana Qila adalah benteng terpenting dalam sejarah India.” Merujuk pada Sher Mandal, ia menambahkan, “Seluruh desain era Mughal dapat dilihat di perpustakaan ini, dan terdapat ruangan di lantai dua.” Ruang tempat Humayun dulu membaca dan merenung kini tetap terkunci dan sunyi.
Seorang penguasa didorong oleh emosi
Gaya kepemimpinan Humayun berbeda dengan kebanyakan penguasa Mughal. Dia tidak dikenal kasar atau penuh perhitungan. Dia sering memimpin dengan emosi. Ia tetap setia kepada keluarganya, meski kesetiaan itu tidak dibalas. Kerugian lain dari Humayun adalah dia sangat mencintai saudara-saudaranya, dan saudara-saudaranya juga mengkhianatinya.Sifat emosional ini membuatnya lebih sulit untuk mempertahankan kekuasaan. Pada saat yang sama, hal itu membentuk cara orang-orang terdekatnya mengingatnya. Kakak perempuannya, Gulbadan Begum, menulis tentang dia di Humayun Nama, dengan singkat mengatakan, “Humayun memiliki sifat yang sangat rendah hati.”
Kelahiran seorang kaisar masa depan
Warisan terbesar Humayun bukanlah sebuah pertempuran atau kemenangan. Pada tahun 1542, selama pengasingannya di Umarkot, ia dan istrinya Hamida Bano Begum memiliki seorang putra. Anak tersebut diberi nama Jalaluddin Muhammad Akbar.Setelah kematian mendadak Humayun, Akbar menjadi kaisar pada usia 13 tahun. Ia kemudian membentuk Kekaisaran Mughal dengan cara yang menentukan masa depannya. Banyak yang percaya pendekatan Akbar dalam memerintah dibentuk dengan melihat perjuangan ayahnya. Kehidupan Humayun yang penuh dengan kehilangan dan kebangkitan yang berulang-ulang, diam-diam mempengaruhi menjadi penguasa Akbar.
Tempat peristirahatan terakhir
Humayun dimakamkan di sebuah makam di Nizamuddin Timur Delhi. Pembangunannya dimulai oleh istrinya dan kemudian diselesaikan oleh Akbar. Ini menjadi makam taman pertama pada periode Mughal dan kemudian menginspirasi monumen seperti Taj Mahal. Saat ini, bangunan ini menjadi pengingat akan seorang kaisar yang kehidupannya ditandai dengan kesulitan, namun perannya dalam sejarah tetap signifikan.Gambar: Canva/ Canva AI (hanya untuk tujuan perwakilan)
BN Nasional





