JAKARTA, BN NASIONAL – Komisi XII DPR RI mendesak Institute for Essential Services Reform (IESR) untuk melakukan kajian lebih mendalam terhadap target Emisi Nol Bersih (Net Zero Emission) pada 2060 dan Rencana Indonesia Emas 2045.
Anggota Komisi XII, Syarif Fasha mengungkapkan kekhawatirannya atas lemahnya komitmen politik pemerintah dalam menangani krisis lingkungan, terutama masalah polusi udara yang makin parah di Jakarta.
“Contoh satu hal, salah satu penyumbang terbesar polusi di DKI adalah transportasi. Kalau di DKI masih ada kendaraan tahun 1978 yang asapnya seperti fogging, bagaimana mungkin kita bisa bicara 2060 bebas emisi?” ujar Fasha dalam rapat kerja dengan IESR, dikutip Kamis (8/5/2025).
Fasha juga menyoroti tidak adanya keselarasan kebijakan dari pemerintah di semua tingkat, mulai dari kabupaten/kota, provinsi, hingga pusat. Menurutnya, hal ini berpotensi menghambat capaian target emisi nol bersih.
“Temuan-temuan begini sampaikan, IESR ini kan akademisi. Kalau tidak kita lakukan pembatasan-pembatasan ini, maka mustahil akan tercapai 2060 ini bebas emisi. Karena kalau DKI ini emisinya sudah jauh di bawah ambang batas, berarti Indonesia sudah boleh disebut mencapai 2060 bebas emisi, kuncinya ada di DKI ini,” jelas Fasha.
Senada dengan Fasha, Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto mengungkapkan bahwa DKI Jakarta tercatat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia pada 18 Agustus 2024. Ia menyebut, selain transportasi, faktor lain yang memperburuk kualitas udara adalah keberadaan 10 PLTU berbasis batu bara di sekitar ibu kota.
Sugeng juga menyinggung belum meratanya penerapan bahan bakar ramah lingkungan di Indonesia, terutama di sektor transportasi. Ia menilai penggunaan Pertalite dengan RON 90 yang masih mengandung sulfur tinggi menjadi hambatan besar dalam menurunkan emisi.
“Kebijakan pemerintah tentang BBM yang ramah lingkungan yakni Euro 5 yaitu Pertamax Plus dan Pertamax Turbo belum diterapkan di Indonesia, jadi kita masih konsumsi terbesar termasuk di DKI adalah Pertalite dengan RON 90 dengan tingkat sulfur yang masih sangat tinggi, nah dunia sudah Euro 5. Itu problem problem yang juga kita hadapi,” kata Sugeng.





