Kurangi Impor, Pemerintah Genjot Produksi Energi Nasional

JAKARTA, BN NASIONAL – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan pentingnya ketahanan energi sebagai fondasi ketahanan pangan dan hilirisasi industri yang menjadi prioritas kebijakan Pemerintah saat ini. Stabilitas pasokan energi dinilai menjadi kunci keberhasilan pembangunan berkelanjutan.

“Ketahanan energi merupakan bagian dari ketahanan nasional yang tertuang dalam Asta Cita. Ketahanan energi dapat memberikan manfaat besar bagi perekonomian nasional. Tanpa ketahanan energi, ketahanan di sektor lain tidak dapat terwujud. Pangan, misalnya, masih memerlukan energi, begitu juga dengan hilirisasi yang menjadi prioritas Pemerintah untuk pembangunan berkelanjutan,” ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot dalam Rapat Kerja Nasional Asosiasi Pemasok Energi, Batubara, dan Mineral Indonesia (Aspebindo) di Jakarta, Kamis (27/2/2025).

Yuliot menjelaskan, ketahanan energi nasional harus dicapai dengan menyeimbangkan pasokan dan kebutuhan energi. Saat ini, kebutuhan minyak dalam negeri mencapai 532 juta barel per tahun, sementara produksi nasional hanya sebesar 212 juta barel.

Baca juga  Kamboja Bebaskan 26 Aktivis Oposisi dan Tahanan Politik

Defisit ini menyebabkan impor sebesar 313 juta barel per tahun, yang terdiri atas 112 juta barel minyak mentah dan 201 juta barel bahan bakar minyak (BBM).

“Defisit ini menyebabkan kehilangan devisa negara sebesar Rp523 triliun. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis untuk mengurangi impor dan meningkatkan produksi dalam negeri, antara lain dengan mengoptimalkan produksi melalui pemanfaatan teknologi, reaktivasi sumur idle, serta eksplorasi potensi migas di Indonesia Timur yang hingga kini belum tereksplorasi secara optimal,” jelas Yuliot.

Reaktivasi sumur idle menjadi salah satu strategi andalan. Dari 16.990 sumur idle yang ada, sebanyak 4.457 sumur berpotensi direaktivasi. Pada 2024, sebanyak 1.021 sumur telah direaktivasi dengan potensi peningkatan produksi sebesar 8.035 barel per hari, dan pada 2025, diproyeksikan 1.006 sumur dapat direaktivasi dengan potensi tambahan 5.816 barel per hari.

Baca juga  Studi Baru Menunjukkan Kondisi Awal Mars yang Cocok untuk Kehidupan

Pemerintah juga mendorong pengembangan undeveloped discovery yang berpotensi menghasilkan 2,86 miliar barel minyak dan 19 triliun kaki kubik gas bumi. Selain itu, terdapat 74 lapangan migas dengan status plan of development (POD) yang berpotensi menghasilkan 403 juta barel minyak dan 9,6 triliun kaki kubik gas bumi jika optimalisasi produksi dapat direalisasikan.

Dengan berbagai strategi tersebut, Pemerintah optimistis ketahanan energi nasional dapat terwujud, sekaligus menekan ketergantungan impor demi mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Penulis: Louis By

Editor: Nico Alp