25.4 C
Jakarta

Pengadilan Tinggi Perberat Hukuman Mantan Dirut DP4 Pelindo

Published:

JAKARTA, BN NASIONAL

Pengadilan Tinggi DKI Jakarta telah memperberat hukuman mantan Direktur Utama Dana Pensiun Perusahaan Pelabuhan dan Pengerukan (DP4) Pelindo, Edi Winoto. Hukuman Edi meningkat dari 6 tahun menjadi 10 tahun penjara. Putusan banding jaksa penuntut umum terhadap Edi berlangsung pada Kamis, 13 Juni 2024. Dalam amar putusannya, majelis hakim tinggi menyatakan Edi Winoto terbukti secara sah melakukan tindak pidana korupsi.

“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana penjara selama 10 tahun dan denda sejumlah Rp500.000, dengan ketentuan apabila tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 6 bulan,” demikian bunyi amar putusan yang dikutip pada Selasa, 18 Juni 2024.

Selain pidana penjara, hakim PT DKI Jakarta juga menghukum Edi membayar uang pengganti senilai Rp75 miliar satu bulan pasca putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap. Jika tidak membayar, harta bendanya akan disita dan dilelang oleh jaksa. Jika harta bendanya tidak mencukupi, ia akan dipenjara selama 3,5 tahun tambahan.

Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan Edi Winoto sebagai tersangka dalam perkara korupsi pengelolaan DP4 di PT Pelindo (Persero) 2013-2019. Edi adalah satu dari enam tersangka dalam kasus ini.

“Penyidik dari Jampidsus telah meningkatkan penanganan perkara dari penyidikan umum ke penyidikan khusus setelah menemukan alat bukti yang cukup dan menetapkan enam orang tersangka,” kata Direktur Penyidikan (Dirdik) Kejagung, Kuntadi, dalam keterangannya pada Selasa, 9 Mei 2023 lalu.

Selain Edi, tersangka lainnya adalah KAM, Direktur Keuangan DP4 periode 2008-2014; US, Manager Investasi DP4 periode 2005-2019; IS, Staf Investasi Sektor Riil periode 2012-2017; CAK, Dewan Pengawas DP4 periode 2012-2017; dan AHM, makelar tanah. “EWI, KAM, dan AHM dilakukan penahanan di Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Agung selama 20 hari terhitung 9 Mei hingga 28 Mei 2023,” ucap Kuntadi. Sementara itu, CAK, IS, dan US ditahan di Rutan Kelas 1 Jakarta Pusat selama 20 hari juga.

Edi Winoto, dalam suasana ruang sidang yang tegang, merasakan keadilan yang menjeratnya. Dengan wajah yang tegar namun penuh beban, ia mendengar putusan hakim yang menghancurkan harapannya. “Ini adalah prioritas keadilan bagi kita semua,” ucap hakim dengan tegas, menutup sidang yang menjadi salah satu babak terpenting dalam hidup Edi.

“Pada prinsipnya sudah bagus. Namun, jangan berpuas diri, siap ditekan terus itu yang saya harapkan,” tambah Pj. Wali Kota dalam konteks kunjungan sebelumnya yang mengingatkan pentingnya tanggung jawab dan akuntabilitas, sesuatu yang kini menjadi pusat perhatian dalam kasus Edi Winoto ini.**

Related articles

Recent articles

spot_img