JAKARTA, BN NASIONAL – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot, mengapresiasi inovasi pengelolaan sampah menjadi energi listrik yang diterapkan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Benowo, Surabaya.
Ia menilai model ini dapat menjadi percontohan nasional dalam pengelolaan sampah berbasis energi, mendukung ketahanan energi, dan sejalan dengan program Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto.
“Pengelolaan sampah menjadi energi listrik ini layak direplikasi di berbagai daerah. Namun, untuk mewujudkannya, diperlukan diseminasi teknologi, karena banyak daerah yang masih kekurangan pemahaman teknis dan membutuhkan solusi cepat dalam pengelolaan sampah,” ujar Yuliot saat mengunjungi TPA Benowo, Selasa (10/12/2024).
TPA Benowo mengoperasikan dua teknologi utama:
- Landfill Gas Power Plant untuk sampah organik, menggunakan proses fermentasi gas.
- Gasification Power Plant untuk sampah nonorganik, dengan teknologi termokimia.
Menurut Yuliot, pendekatan ini tidak hanya menyelesaikan masalah limbah perkotaan, tetapi juga menghasilkan energi ramah lingkungan.
“Permasalahan sampah yang tidak tertangani berpotensi menjadi ancaman lingkungan dan kesehatan. Dengan teknologi seperti ini, kita mampu menyelesaikan dua masalah sekaligus: sampah dan kebutuhan energi,” jelasnya.
Pemerintah Indonesia telah menetapkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan. Regulasi ini mendorong pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di 12 kota, termasuk Surabaya, Jakarta, Bandung, dan Makassar.
“Perpres ini menjadi panduan penting dalam percepatan pembangunan PLTSa untuk menjawab tantangan pengelolaan sampah di kota besar,” tambah Yuliot.
Direktur Utama PT Sumber Organik, Agus Nugroho Susanto, menjelaskan bahwa teknologi termal, seperti incinerator dan gasifikasi, merupakan solusi utama untuk mencapai konsep zero waste. Teknologi ini mampu mengolah sampah dengan menghasilkan residu minimal, seperti fly ash dan bottom ash, yang dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan seperti bata atau paving.
“Konsep zero waste ini sudah diterapkan di banyak negara, termasuk Singapura yang memanfaatkan fly ash untuk reklamasi. Hasilnya, kota menjadi bersih dan bebas bau,” kata Agus.
Ia menambahkan, Indonesia perlu memprioritaskan teknologi termal untuk pengelolaan sampah perkotaan.
“Sampah yang diolah menggunakan teknologi ini akan menyisakan residu yang jauh lebih kecil, sekaligus memberikan manfaat tambahan bagi pembangunan,” tuturnya.
Yuliot berharap TPA Benowo menjadi model pengelolaan sampah berbasis energi yang dapat direplikasi di berbagai daerah.
“Jika teknologi ini diterapkan secara luas, kita tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat bagi masyarakat,” pungkasnya.





