Bali, BN Nasional – Bali Compact telah disetujui para Menteri Energi G20 pada Forum Transisi Energi bulan September lalu, berisikan sembilan prinsip-prinsip dasar sehingga dapat dijadikan pondasi dan acuan bagi negara anggota G20 dalam percepatan transisi energi.
Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan, Bali Compact adalah kesepakatan untuk meningkatkan teknologi yang inovatif, terjangkau, rendah atau nol emisi dengan mengedepankan kemitraan dan kolaborasi dalam transisi energi dan dapat diterjemahkan pesan kunci kepada para pelaku usaha untuk terlibat dalam transisi energi.
“Yaitu dengan meningkatkan partisipasi aktif terhadap pengembangan energi dan inovasi teknologi yang rendah karbon, serta dengan menerapkan prinsip efisiensi energi pada seluruh rantai bisnis operasi,” kata Arifin pada acara The Economist Event di Nusa Dua, Bali, Sabtu (12/11/2022)
Ditambahkannya, pesan kunci lainnya kepada pelaku usaha dalam transisi energi adalah bisa menjadi pendorong proses transisi energi yang bersih, terjangkau, berkelanjutan, dan inklusif dalam aktivitas bisnis.
Maka dari itu, sumber daya manusia di Indonesia harus meningkatkan keterampilan dan kemampuan pekerja agar mampu beradaptasi terhadap perubahan dalam transisi energi, juga memitigasi dampak-dampak lain yang akan timbul dari transisi energi di sektor rantai pasok bisnis.
Para pelaku usaha bisa menjadi yang terdepan dalam transisi energi di sektor bisnis dengan menjalin hubungan baik dengan investor, lembaga pendanaan dan konsumen. “Kemudian dengan meningkatkan daya saing pelaku usaha yang memenuhi aspek berkelanjutan,” katanya. (Louis)





