Jakarta, BN Nasional – Sebagian besar sumber daya mineral yang dimiliki Indonesia adalah sumber daya terbatas dan tak terbarukan. Oleh karena itu, keberadaannya harus dimanfaatkan secara efektif dan efisien. Berkurangnya ketersediaan sumber daya tersebut akan berdampak besar bagi kelangsungan kegiatan industri di hilirnya.
Salah satu tim Pusat Riset Teknologi Pertambangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan, berdasarkan dinamika global saat ini mineral kritis adalah mineral masa depan yang sangat dibutuhkan mengikuti perkembangan teknologi yang ada untuk energi yang bersih, kendaraan listrik, dan material yang lainnya.
“Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki berbagai jenis dan potensi kekayaan sumber daya mineral yang sangat besar,” kata Triswan dalam paparannya berjudul ‘Kriteria dan Pengelompokkan Mineral Kritis Indonesia’.
Menurutnya, titanium merupakan salah satu kategori material kritis. Di Amerika dan Kanada, titanium ini menjadi salah satu dari 50 mineral kritis. Titanium dimanfaatkan oleh teknologi penerbangan atau teknologi maju.
“Bahan baku titanium dimanfaatkan oleh industri pesawat terbang. Hal ini dikarenakan ketersediaannya terbatas dan tidak semua negara memiliki teknologi untuk mengekstrak titanium. Titanium dikategorikan material kritis juga berdasarkan dari pemanfaatannya,” jelasnya.
Triswan juga menjelaskan bahwa kondisi di Indonesia, pengelompokan mineral berdasarkan beberapa hal material menjadi penting dan kritis. Hal tersebut antara lain akibat dari eksploitasi yang terus menerus, ketersediaannya semakin berkurang, keterdapatannya di bumi terbatas dan memiliki tingkat kesulitan untuk mendapatkannya, banyaknya permintaan, persaingan geopolitik, masalah kebijakan perdagangan, dan fungsi dari mineral kritis, tak tergantikan oleh mineral lain.
Tujuan dari kajian mineral kritis yang dilakukan oleh periset bertujuan untuk mengetahui potensi keterdapatan mineral kritis dan kemungkinan pemenuhan kebutuhannya sebagai bahan baku industri strategis di dalam negeri.
“Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menentukan mineral kritis antara lain sebagai bahan baku industri strategis, umur cadangan komoditas utama, belum adanya teknologi ekstraksi dan pemurnian yang ekonomis, serta pasokan dalam negeri yang lebih kecil dibanding permintaan,” jelasnya.
Litium termasuk salah satu material kritis, sebab, Indonesia masih mengimpor dari negara-negara tertentu. Litium ini ke depannya berguna dalam membangun industri kendaraan listrik, terutama dalam pembuatan baterai, sehingga diperlukan dalam jumlah banyak nantinya.
Sementara itu, periset dari Pusat Riset Material Maju (PRMM) BRIN Agus Hadi Santosa Wargadipura mengatakan, superplastic forming (pembentukan superplastik) adalah teknik pembentukan material yang menggunakan karakteristik elongasi dan deformasi yang luar biasa besar untuk membentuk material superplastik menjadi suatu bentuk tertentu.
“Daya tarik utama dari pembentukan superplastik adalah kemampuannya untuk secara radikal memperluas batasan yang terkait dengan proses yang manufaktur logam yang konvensional, yang biasanya membutuhkan rakitan multi bagian komponen untuk memproduksi satu komponen,” jelas Agus.
“Dengan menggunakan teknologi pembentukan superplastik, sekarang dimungkinkan untuk membentuk komponen yang dalam dan berbentuk kompleks dalam pengepresan superplastis dalam operasi tunggal, tanpa patah, sehingga menghasilkan komponen struktural yang ringan, kuat, dan lebih terintegrasi secara utuh yang biasanya diperlukan untuk aplikasi komponen struktural kedirgantaraan,” tambahnya.
Keunggulan dari metode superplastic forming yakni penghematan biaya yang terutama didasarkan pada penggunaan material yang efisien, pengurangan jumlah bagian pengikat, dan biaya perakitan yang rendah.
“Kombinasi pembentukan superplastik dengan metode penyambungan logam yang tersedia, seperti teknik diffusion bonding yang menghasilkan perluasan teknik pembentukan superplastik yang hampir tak terbatas karena komponen struktural seluler ringan kuat, yang lebih integral dapat dilakukan,” katanya.
Sebagai alat perancangan proses superplastic forming, telah dikembangkan metode komputasi berdasarkan teknik elemen. Dengan menggunakan teknik komputasi, dimungkinkan untuk memeriksa berbagai parameter desain atau kondisi operasi yang menghasilkan proses pembentukan yang lebih ekonomis untuk berbagai geometri komponen. Formulasi aliran viskositas non-Newtonian digunakan untuk memodelkan konstitutif material superplastik selama periode pembentukan.” ucapnya. (Louis)





