Jakarta, BN Nasional – Produksi dan ekspor PT Timah Tbk selama empat tahun kebelakang mengalami konsistensi penurunan yang bisa dikatakan drastis, pada tahun 2022 PT Timah hanya memproduksi sebanyak 22.000 metrik ton dari target 40.000 metrik ton. dan ekspor sebanyak 17,280 metrik ton.

Secara berurut, pada tahun 2019 PT Timah mencatatkan ekspor tertinggi dalam satu dekade terakhir sebanyak 66,545 metrik ton, tahun 2020 menurun menjadi 49,910 metrik ton, dan tahun 2021 diangka 24,260 metrik ton.
Jika dilihat dari persentase, PT Timah juga menurun, kalah dengan perusahaan swasta lainnya. tahun 2019 sebesar 97,79%, tahun 2020 sebesar 76,14%, 2021 sebesar 32,49%, dan tahun 2022 sebesar 22,12%.
Direktur Utama PT Timah Tbk Achmad Ardianto angkat suara terkait penurunan produksi dan ekspor timah sejak tahun 2019 hingga 2022.
“Sebenarnya bukan kendala ya, itu memang sedang terjadi pembenahan ekosistem. Mungkin teman-teman sudah mengetahui kondisi pertimahan indonesia memang belum pernah stabil atau sehat sejak dulu yang merupakan implikasi karena perubahan status dari logam strategis menjadi non strategis,” kata Achmad saat dijumpai di Jakarta, Kamis (23/2/2023).
Achmad menyebutkan, perubahan logam timah dari mineral strategis menjadi non strategis sejah tahun 2003 hingga 2018 membuat banyak pihak yang ingin mengusahakan timah.
“Sekarang masa transisi selama 15 tahun untuk membentuk ekosistem timah yang lebih sehat, itu yang membuat ada kontraksi,” katanya.
Penurunan produksi PT Timah, juga berbanding lurus dengan penurunan biaya, PT Timah juga terus bekerja sama dengan mitra sehingga ekosistem tersebut dapat terus diperbaiki. Saat ini PT Timah sedang membenahi penambangan timah yang ada, agar tidak menimbulkan kontraksi. (Louis/Rd)
“Timahnya tetap disitu, ini masalah timing mengeluarkannya. Kita masih punya 1 juta ton yang bisa dikonversi ke cadangan,” kata Achmad.





