Bangka Belitung Punya Bahan Baku Penting Dalam Industri EV

Jakarta, BN Nasional – Pemerintah saat ini sedang fokus melakukan hilirisasi di industri pertambangan dalam upaya untuk menambah nilai tambah pada hasil tambang dengan mengolah dan mengubah bahan mentah menjadi produk-produk yang lebih bernilai tinggi secara ekonomi salah satunya dalam industri electric vehicle (EV).

Perkembangan EV di Indonesia sangat signifikan, maka dari itu industri hilirisasi nikel menjadi baterai sangat meningkat jauh dari sebelumnya.

Namun, Indonesia memiliki satu komponen yang tidak bisa digantikan dalam pembuatan baterai EV, yakni lithium. Hingga saat ini belum ada perusahaan yang menambang lithium di Indonesia, sehingga Indonesia sedang berusaha mendapatkan lithium dari Australia.

“Satu-satunya yang tidak kita punya dari suply chain batery adalah lithium,” kata Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi (KemenkoMarves) Septian Hario Seto saat dijumpai di Jakarta, Kamis (23/2/2023).

Baca juga  Saratoga Milik Konglomerat Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno Sedang 'Rajin' Berikan Miliaran Pendanaan ke Startup, Siapa Saja?

WhatsApp Image 2023 02 27 At 16.34.26 300x173

Titik terang mulai terlihat untuk industri bateri EV ini, di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ditemukan lithium, hingga saat ini Kemenkomarves sedang melakukan penelitian sampai pengambilan sample.

“Yang lagi kita lihat di Bangka Belitung itu ada Lithiumnya, walaupun kadarnya belum terlalu sebanding dengan apa yang ada di Australia dan Amerika Selatan,” jelasnya.

Karakter lithium dari setiap daerah tentu berbeda, lithium bukanlah logam yang paling melimpah di alam, namun penggunaannya semakin meningkat karena lithium dianggap sebagai salah satu bahan baku penting bagi perkembangan teknologi energi masa depan.

“Struktur Lithiumnya, orenya itu berbeda. Ini kita lagi evaluasi kemarin saya di update itu dari bekas galian timah kita ambil sample ada potensi kandungan lithium, ini yang kita perdalam,” katanya.

Lithium ini digunakan dalam produksi berbagai jenis baterai, seperti baterai Li-ion, baterai lithium-polimer, dan baterai non-rechargeable.

Permintaan litium global diproyeksi terus meningkat hingga 2030. Berdasarkan data Komisi Tembaga Chili, Ppda tahun 2021 permintaan litium di dunia mencapai 465.000 metrik ton setara litium karbonat (mt LCE). Jumlahnya kemudian meningkat 20,22% menjadi 559.000 mt LCE pada tahun 2022.

Baca juga  Bertemu Ketua DPR Korea Selatan, Presiden Siap Perkuat Kerja Sama dengan Korea Selatan

Permintaan litium diperkirakan terus meningkat dalam delapan tahun ke depan. Pada 2030, permintaan komoditas tersebut ditaksir mencapai 2,11 juta mt LCE.

Adapun, data US Geological Survey (USGS) menunjukkan, total produksi litium di seluruh dunia diestimasikan mencapai 100.000 metrik ton pada 2021. Jumlah ini meningkat 21,2% dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebesar 82.500 ribu metrik ton.

Australia menjadi negara produsen litium terbesar dunia dengan produksi 55.000 metrik ton pada 2021. Posisinya diikuti Chili yang memproduksi litium sebanyak 26.000 metrik ton. (Louis/Rd)