Jakarta, BN Nasional – Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi (KemenkoMarves) Septian Hario Seto memaparkan pada tahun 2016 lalu, salah satu industri smartphone terbesar di dunia ingin berinvestasi di Indonesia.
“2016 itu Apple sempat menyampaikan ke kita mereka sampaikan ke kita mau bikin di Indonesia, tapi tolong beresin ilegal ini. Kalau itu tidak dibereskan, menurut saya sangat sulit untuk menarik hilirisasinya,” kata Seto saat dijumpai di Jakarta, Kamis (23/2/2023).
Sepanjang tahun 2022 Kementerian ESDM mencatat terdapat 2.741 lokasi Penambangan Tanpa Izin (PETI) komoditas batubara, logam, dan non logam di berberapa lokasi di Indonesia.
Tidak hanya Peti, Ekspor ilegal juga masih ada di Indonesia. Presiden RI Joko Widodo mengakui ekspor ilegal atas sejumlah komoditas tambang masih terus terjadi, mulai dari timah, bauksit, hingga batu bara.
Salah satu langkah pemerintah untuk menangani aktivitas ilegal tersebut adalah terus mengaudit kegiatan pertambangan dengan berbagai kementerian/lembaga terkait, salah satunya Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
“Kita baru saja menyelesaikan audit dengan BPKP soal pertambangan timah ini, banyak yang lucu-lucu hasilnya dan ini akan kita sikapi untuk ditertibkan,” jelas Seto.
Kemenkomarves membuat suatu sistem bernama Sistem Informasi Mineral dan Batubara Antar Kementerian dan Lembaga (SIMBARA) yang merupakan bentuk sinergi dari kementerian/lembaga untuk tata kelola minerba yang lebih baik.
“KYang nyeleweng kanan kiri kita ajak ke koridor mainnya supaya pertambangan timah kita bisa sustainable. Kita sudah masukan komoditas timah dalam simbara, peningkatan pendapatan negara sangat signifikan, karena kalau mereka belum membayar royalti mereka tidak bisa mengirimkan barangnya,” katanya.
Seto mengajak seluruh stakeholder dan pengusaha untuk bersama-sama menyelesaikan permasalahan ilegal mining ini, dengan begitu maka Indonesia dapat mengontrol harga timah.
“Kalau kita bisa tertib, ya kita bisa mengontrol harga timah. Ketika harga tinggi, ilegal naik. Nanti suply naik harga turun, dan ilegalnya turun. Seperti itu polanya,” jelasnya.
Seto prihatin dengan kondisi pertimahan saat ini, dengan negara yang memiliki cadangan timah terbesar, namun tidak dimanfaatkan dengan maksimal.
“Ngenes bagi kita sebuah negara dengan cadangan terbesar kedua, harusnya kita bisa kontrol suplu, jangan barang mineral kita di obral. Kita kerjakan ini dengan baik, bisa bikin duit banyak tapi dengan responsible mining. Kita sudah liat casenya, di timah tidak jauh beda asal suply kita kontrol,” jelasnya. (Louis/Rd)





