Kementerian ESDM Optimis Hasilkan Produk Rare Earth yang Berharga 2024

Jakarta, BN Nasional – Dalam rangka meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi, Kementerian ESDM bersama stakeholder lain untuk mengembangkan teknologi industri logam tanah jarang (LTJ) atau yang sering disebut Rare Earth Element (RRE) dari hasil sisa olahan industri timah.

Kepala Balai Besar Pengujian Mineral dan Batubara (Minerba) Direktorat Jenderal (Ditjen) Minerba Kementerian ESDM Julian Ambassadur Shiddiq mengungkapkan, pihaknya melakukan tindak lanjut dengan melakukan pembuatan demo plan untuk teknologi tersebut.

“Terkait dengan thorium, tahun kemarin kita sudah mulai melakukan tindak lanjut. Kita bangun demo plan bersama berberapa pihak untuk mengekstraksi monasit,” kata Julian saat dijumpai di Jakarta, Kamis (23/2/2023).

Perjanjian Kerja Sama (PKS) dilakukan oleh enam pihak, antara lain Kementeri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (KemenkoMarves), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian ESDM, PT Bersahaja, PT Rekayasa Industri (Rekind), dan PT Timah.

Baca juga  Menteri ESDM Beberkan Urgensi Revisi Aturan Kebijakan Energi Nasional

“Diharapkan selesai tahun ini, tahun depan mulai diproduksikan, dan apakah cukup ekonomis teknologinya untuk mengekstraksi thorium dari monasit,” jelas Julian.

Hingga saat ini memang Roadmap untuk LTJ dan Thorium memang belum ada, namun hal tersebut dilakukan oleh Kementerian ESDM bersama pihak lainnya untuk menemukan teknologi terlebih dahulu.

“Roadmap memang belum ada, tapi kalau kita mengembangkan pilot plan untuk ekstraksi itu sedang berjalan,” katanya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Timah Tbk Achmad Ardianto mengatakan, PT Timah sudah melakukan kerja sama dan sudah melakukan pengumpulan sample.

“Kita lihat hasilnya, kayaknya tergantung dari hasil analisis dulu, kalau hasil analisis sudah ada baru kita bisa laksanakan,” katanya. (Louis/Rd)