Optimisme APNI Wujudkan Indonesia Nickel Prices Index

Jakarta, BN Nasional – Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) optimis dapat mewujudkan Indonesia Nickel Prices Index (INPI) agar Indonesia dapat memiliki branding sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia.

Sekteratis Umum APNI Meidy Katrin Lengkey mengatakan, hingga saat ini APNI sedang bekerja sama dengan London Metal Exchande (LME) untuk perhitungan harga nikel.

Selain LME, Apni juga menggandeng Wood Mackenzie, Nickel Institute, dan juga Shanghai Metal Market (SMM) untuk mendapatkan gambaran mengenai pasar nikel ini.

“INPI untuk kepentingan Indonesia, tapi inget namanya harga harus kita pikirkan buyyer. Bagaimana dengan berkolaborasi dengan buyer dunia, jangan ujungnya kita kena WTO lagi,” kata Meidy kepada wartawan, Senin (6/3/2023).

Harga nikel di Indonesia jauh lebih rendah dari harga dunia, hal ini membuat APNI memperjuangkan INPI agar penambang tidak dirugikan akibat tekanan harga.

Baca juga  Nyerah Dengan Penambang Ilegal, Pemerintah Lakukan Ini

“Selama ini nickel yang diekspor harganya masih 45 sampai 50 persen dibawah LME. Sebenarnya itu bukan urusan kita, urusan kita di hulu, tapi kalau kita tidak pikirkan hilir yang terlalu ditekan harganya ujung-ujungnya nanti kena lagi ke penambang,” jelas Meidy.

Indonesia sudah saatnya memiliki market komoditas mineral ini. Sebab dari dulu Indonesia terpaku dengan harga dunia dan tidak dapat mengendalikan harga.

“Mimpi kita bukan hanya INPI tapi bagaimana kita membuat Indonesia Metal Market. Kita sedang mencoba, kalau APNI berjuang pasti berhasil,” katanya. (Louis/Rd)