Jakarta, BN Nasional – Kementerian ESDM mempercepat proses konversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) ke Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) sebagai salah satu bentuk efisiensi biaya dan pengurangan import Bahan Bakar Gas (BBM).
Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan, proses dieselisasi atau konversi PLTD ke PLTG harus dipercepat karena perbedaan harga diesel dan subsisi yang sangat besar.
“Kita menunggu konversi diesel ke gas. Itu yang harus dipercepat, karena dapat mengurangi subsidi yang sangat besar. Beda harga diesel, dan gas sudah dikasih harga gas yang murah,” kata di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (17/3/2023).
Perbandingan harga listrik per kWh antar PLTD dengan PLTG berbanding jauh. Data statistik PLN, PLTD sendiri berada di kisaran Rp 4.746,32 per kWh, sedangkan PLTG Rp 1.611,79 per kWh.
Jika dibandingkan dengan pembangunan infrastruktur PLTG, harga per kWh untuk PLTD dinilai masih lebih tinggi daripada PLTG.
“Kalau dibangkan cost elektrifity sama itu (PLTD), masih mahal cost elektrifity,” katanya.
Pada tahun 2020, PLN memiliki sebanyka 5.200 unit PLTD yang tersebar di 2.130 lokasi yang rata-rata berada di daerah terpencil dan terisolasi.
Sepanjang tahun 2020, PLN menghabiskan 2,7 juta kiloliter BBM untuk menghidupkan PLTD atau setara dengan Rp 16 triliun.
Terdapat tiga skema untuk dedieselisasi, pertama mengkonversi PLTD menjadi Energi Baru Terbarukan (EBT), mengkonversi PLTD ke PLTG, dan mengkonversi PLTD menjadi interkoneksi dalam jaringan PLN. (Louis/Rd)





