Jakarta, BN Nasional – PT Timah Tbk akui bahwa selama tiga tahun terakhir sejak 2019 mengalami penurunan produksi secara terus menerus, hal ini diakibatkan dari tingginya persaingan usaha. Pada tahun 2022 PT Timah hanya memproduksi sebanyak 22.000 metrik ton dari target 40.000 metrik ton, dan ekspor sebanyak 17.280 metrik ton atau 22,12 persen dari produksi timah Indonesia.
Secara berurut, pada tahun 2019 PT Timah mencatatkan ekspor tertinggi dalam satu dekade terakhir sebanyak 66,545 metrik ton, tahun 2020 menurun menjadi 49,910 metrik ton, dan tahun 2021 diangka 24,260 metrik ton.
PT Timah mengungkapkan 80 persen cadangan perusahaan berada di laut dengan total 279.780 ton, sedangkan di darat sebanyak 20.220 menurut data Desember 2021.
Direktur Keuangan PT Timah Fina Eliani mengatakan, terdapat berberapa kendala dari sisi persaingan dan operasional yang membuat produksi dari PT Timah terus menurun sepanjang tahun.
“Kami memang cenderung menurun, pertama semakin tinggi harga jual logam maka tsemakin tinggi persaingan usaha untuk dapat bijih di lapangan,” kata Fina, Jakarta (15/6/2023).
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Timah tahun buku 2022, Fina mengungkapkan terdapat berberapa alat produksi yang sedang dilakukan perawata sehingga tidak dapat beroperasi dan maraknya kegiatan tambang ilegal yang dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab.
“Untuk penambangan laut terdapat kendala armada laut perlu diremajakan, itu yang sangat mempengaruhi produksi PT Timah di 2022 dan sebelumnya. Pertama tambang ilegal, kedua ada kendala terutama dari peralatan produksi, khususnya di laut,” jelas Fina. (Louis/Rd)





