JAKARTA, BN NASIONAL
KEMENTERIAN Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) belum menerima laporan terkait rencana PT ThorCon Power Indonesia untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, menyatakan bahwa segala hal yang berhubungan dengan energi, termasuk PLTN, berada di bawah lingkup Kementerian ESDM.
“Belum ada (mengajukan rencana pembangunan). Sepanjang saya di Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), belum,” kata Dadan saat di wawancarai di Kementerian ESDM pada Senin (23/10/2023).
Di ketahui, PT ThorCon berencana membangun PLTN yang di rencanakan mulai beroperasi pada tahun 2030 di Pulau Gelasa, Provinsi Bangka Belitung, dengan nilai investasi sebesar US$ 900 juta.
“Mengajukan izin berbeda dengan menyampaikan rencana. Bicara mengenai rencana bisa di lakukan oleh siapa saja, namun untuk mendapatkan izin, prosesnya berbeda,” jelas Dadan.
Di samping itu, terdapat syarat yang harus di penuhi, tata waktu yang harus di ikuti, serta persyaratan yang harus di pastikan. Hingga saat ini, belum ada yang mengajukan izin tersebut.
Semua rencana pembangunan PLTN di Indonesia, termasuk kerja sama antara Indonesia dan Amerika dalam pengembangan PLTN yang melibatkan PLN Indonesia Power (IP) dan NuScale melalui US Trade and Development Agency (USTDA), belum memperoleh izin dari perspektif energi.
“Iya (PLN IP dan NuScale) salah satunya merupakan dasar rencana. Namun, hingga saat ini belum ada izin dari segi energi,” ujar Dadan.
Dadan juga menambahkan bahwa PLTN hingga saat ini belum di masukkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). Namun, terdapat pembahasan yang sedang berlangsung mengenai PLTN.
“Kita masih dalam proses pembahasan,” tambahnya.
Selain itu, pemerintah juga tengah merevisi Kebijakan Energi Nasional (KEN) terkait Commercial Operation Date (COD) PLTN.
Revisi ini mengubah tahun COD dari awalnya 2039 menjadi 2032, dengan kapasitas yang lebih kecil.
“Kita ingin memastikan bahwa ini bukan hanya rencana semata. Dengan target yang lebih jelas dan angka yang lebih pasti, kita akan memulai dengan skala yang lebih kecil terlebih dahulu,” jelasnya.
Pihaknya juga memasukkannya dalam simulasi untuk tahun 2032 dengan kapasitas yang lebih kecil.
PLTN dalam skala kecil ini akan menggunakan teknologi Small Modular Reactor (SMR).
Saat ini, sedang di lakukan pengembangan SMR di Kalimantan Barat.
Ini melalui kerja sama antara NuScale, PLN IP, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).(*)





