Indonesia di Pusat Perdebatan Internasional: Transisi Energi dan Dukungan Global

JAKARTA, BN NASIONAL

Dalam sidang majelis umum ke-14 Badan Energi Internasional (IRENA) di Abu Dhabi, UAE, Indonesia mendorong negara-negara maju untuk memberikan kontribusi lebih besar dalam mendukung negara berkembang dalam pengembangan teknologi bersih dan energi terbarukan.

Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Dadan Kusdiana, menggarisbawahi pentingnya kemitraan global dalam mendapatkan pendanaan signifikan untuk infrastruktur dan teknologi yang ramah lingkungan. Dukungan ini d iharapkan akan memberikan dampak positif bagi masa depan iklim yang lebih hijau dan berdaya tahan.

Indonesia, melalui Enhanced-Nationally Determined Contribution (E-NDC), menetapkan target ambisius untuk mengurangi emisi karbon hingga 32 persen pada tahun 2030, serta mencapai nol emisi pada tahun 2060 atau lebih awal. Upaya ini mencakup pengembangan energi terbarukan, dengan perhatian khusus pada pembangunan hidrogen hijau dan optimalisasi penggunaan mineral kritis dalam sektor energi bersih.

Baca juga  Getaran Ncuti Gatwa membawa kepada Dokter yang pantas dirayakan

Menurut Direktur Jenderal IRENA, Fransisco La Camera, Indonesia telah menetapkan peraturan dan instrumen yang d iperlukan untuk mempercepat transisi energi menuju energi terbarukan. Meskipun demikian, tantangan teknologi dan investasi masih menjadi hal yang perlu d iatasi, dengan infrastruktur dan teknologi menjadi krusial dalam mendukung percepatan transisi energi global seperti d ikutip dari Antaranews.com.

Peningkatan kapasitas energi terbarukan di seluruh dunia telah meningkat pesat, namun masih belum cukup untuk mencapai target yang d itetapkan untuk menjaga kenaikan suhu bumi di bawah 1,5 derajat Celsius. Dalam konteks ini, Indonesia mendorong agar investasi dalam teknologi dan infrastruktur energi terbarukan terus d itingkatkan untuk memenuhi kebutuhan global yang semakin meningkat.*[]