JAKARTA, BN NASIONAL – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membeberkan PT Freeport Indonesia (PTFI) sudah mengajukan izin ekspor konsentrat tembaga.
Dimana, seharusnya ekspor konsentrat tembaga sudah dilarang sejak Juni 2024, dan masa relaksasi ekspor yang diterima PTFI sudah habis pada Desember 2024.
“Freeport mereka sudah ajukan untuk 2025 dan kami dari kementerian ESDM lagi membahas dan sudah dilakukan rapat dengan Kemenko (Perekonomian), karena ini lintas Kementerian. Kami akan menunggu, tinggal kami laporkan kepada Bapak Presiden,” kata Bahil saat ditemui di Kantor BPH Migas, Selasa (7/1/2025).
Bahlil menyebut, keputusan diberikannya atau tidak perpanjangan ekspor konsentrat tembaga PTFI ada di tangan Presiden RI Prabowo Subianto.
“Kalau memang itu apapun keputusannya, pasti pertimbangannya lebih baik untuk Freeport dan untuk negara,” ujarnya.
Terkait dengan volume ekspor dan sampai kapan, Bahlil enggan membocorkan hal tersebut. “Kita lagi mengkaji,” katanya.
Menurutnya, saat ini PTFI sudah melakukan kewajibannya dengan membangun smelter di Kawasan Industri JIIPE, Gresik, Jawa Timur dengan nilai investasi US$3,6 miliar dan memproduksi 1,7 juta ton tembaga per tahun.
“karena gini, mereka ini kan sebenarnya sudah (smelter) jadi sebenarnya,” ujar Bahlil.
Namun, smelter baru PTFI tidak dapat melanjutkan proses produksi smelternya, karena terjadi kecelakaan yang menyebab smelter terbakar di bagian Asam Sulfat.
“Tapi kan yang terbakar itu adalah asam sulfatnya. Kalau asam sulfatnya itu tidak diperbaiki, maka proses industri dari yang lainnya itu tidak bisa berjalan. Padahal itu hanya tidak lebih dari 10% dari total ruang lingkup smelter itu. Itu kecil, tapi fatal juga sih soalnya itu,” jelasnya.




