JAKARTA, BN NASIONAL – Indonesia mulai membuka lembaran baru dalam upaya mewujudkan pertumbuhan ekonomi tinggi tanpa mengorbankan lingkungan.
Dalam Forum Bisnis Rusia-Indonesia yang digelar di Jakarta (14/04/2025), energi nuklir muncul sebagai topik strategis yang dibahas serius oleh kedua negara.
Kepala Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir (PRTRN) BRIN, Topan Setiadipura, menjelaskan bahwa Indonesia tengah mempertimbangkan energi nuklir sebagai solusi jangka panjang dalam memenuhi kebutuhan energi nasional yang terus meningkat.
“Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 8%, yang tentunya menuntut ketersediaan energi yang besar. Namun di saat yang sama, kita memiliki komitmen kuat untuk mengurangi emisi karbon,” ujar Topan.
Ia mengungkapkan, saat ini lebih dari 400 pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) telah beroperasi di berbagai belahan dunia, sementara 61 lainnya sedang dibangun. Negara-negara berkembang seperti Turki, Mesir, dan Bangladesh bahkan telah memanfaatkan teknologi PLTN dari Rusia untuk menopang pertumbuhan ekonomi mereka.
Indonesia pun tak ingin tertinggal. Dalam rencana jangka menengah (2030–2034), pemerintah menargetkan pembangkit nuklir pertama dengan kapasitas 500 megawatt mulai beroperasi.
“Masih kecil, tapi ini langkah awal yang penting,” katanya.
Dengan kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, Topan menyebut teknologi Reaktor Modular Kecil (Small Modular Reactor/SMR) hingga reaktor terapung sebagai solusi potensial.
“Bayangkan saja, pembangkit terapung dari Rusia bisa dikirim ke pulau-pulau terpencil. Itu sangat cocok untuk kita,” ujarnya.
Selain itu, Indonesia juga tengah menjalankan program de-dieselisasi, yaitu penggantian ribuan pembangkit listrik tenaga diesel dengan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, reaktor kecil atau mikro dipandang memiliki peran besar.
“Apalagi kalau kita bisa kerja sama riset dan pengembangan dengan Rusia,” tambahnya.





