BRIN Gandeng China untuk Hidupkan Kembali Fasilitas Bahan Bakar Nuklir Riset yang Mati Suri

JAKARTA, BN NASIONAL – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah memperkuat kerja sama internasional dalam bidang nuklir. Melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN), BRIN mengadakan pertemuan lanjutan dengan China National Nuclear Corporation (CNNC) dan China North Nuclear Fuel Co., Ltd. (CNNFC) pada Rabu (9/4/2025), di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan.

Pertemuan tersebut membahas langkah strategis untuk menghidupkan kembali fasilitas bahan bakar reaktor riset yang selama ini tidak beroperasi akibat penuaan infrastruktur.

“Kami sangat membutuhkan bahan bakar yang siap pakai untuk Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy (RSG-GAS), sehingga pelaksanaan revitalisasi diharapkan dapat segera dimulai. Kami berharap CNNC dapat memberikan saran, rencana, atau apapun terkait cara mempersiapkan revitalisasi fasilitas kami,” kata Kepala ORTN BRIN, Syaiful Bakhri.

Syaiful juga menekankan bahwa para periset BRIN memiliki kapasitas dan pengalaman untuk memproduksi bahan bakar nuklir secara mandiri. Namun, kolaborasi dengan pihak China tetap dibutuhkan.

Baca juga  Hanya 15 menit tambahan tidur meningkatkan otak remaja

“Periset senior kami, bisa dikatakan merupakan pendiri atau pionir dari fasilitas sebelumnya. Karenanya, kami yakin untuk memulai kembali sendiri,” jelas Syaiful.

“Namun, kami masih memerlukan saran dari CNNC bagaimana untuk revitalisasi fasilitas yang ada dan kemungkinan membangun fasilitas baru yang sejenis, yang menurut kami sangat strategis dan urgent,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif (PRTBNLR), Maman Kartaman, menyatakan bahwa kerja sama ini difokuskan pada pemulihan dan peningkatan fasilitas fabrikasi bahan bakar.

“Harapan kami, kerja sama dengan CNNC ini dapat mempercepat tahapan revitalisasi fasilitas bahan bakar dengan teknologi dari CNNC, sehingga dapat difungsikan kembali dengan standar keselamatan dan kualitas yang tinggi,” ujar Maman.

Ia juga menambahkan pentingnya peningkatan kapasitas SDM BRIN, terutama dalam pengembangan bahan bakar berdensitas tinggi.

Baca juga  22 Juta Orang Amerika Menghirup Polusi Udara Tingkat Tidak Aman Karena Aktivitas Rumah Tangga Biasa Ini

“Harapannya, kerja sama riset dapat terjalin, dan para periset memperoleh kesempatan untuk melakukan research visit ke fasilitas CNNC guna meningkatkan capacity building dalam pengembangan bahan bakar berdensitas tinggi berbasis U-Si dan U-Mo,” katanya.

Dengan fasilitas sebelumnya, BRIN telah berhasil mengembangkan bahan bakar U3Si2 dari densitas 2,96 gU/cm³ menjadi 4,8 gU/cm³. Namun, bahan bakar tersebut masih dalam tahap post-irradiation examination di hotcell Instalasi Radiometalurgi.

Dalam pertemuan tersebut, CNNC menawarkan beberapa opsi strategis, termasuk impor bahan bakar sementara dari China, revitalisasi fasilitas lama dengan teknologi terkini, hingga pembangunan fasilitas baru untuk mendukung kebutuhan operasional RSG-GAS.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Chief Representative of CNNC Indonesia, Su Bin, dan Liu Zhihua dari CNNFC. Dalam pemaparannya, Liu menyampaikan bahwa CNNFC yang berdiri sejak 1958 merupakan pionir dalam produksi bahan bakar dan material nuklir di China, serta menjadi bagian dari China Nuclear Energy Industry Corporation (CNEIC) di bawah naungan CNNC.

Baca juga  Tren yang Membentuk Kembali Ekspansi Ritel di Tahun 2025