Jakarta, BN Nasional – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan, terdapat perusahaan yang melakukan impor ore nikel dari Philipina. Alasan perusahaan melakukan import tersebut, karena kurangnya pasokan bahan baku.
“Ada isu nikel yang diimpor dari Philipina, karena smelter kekurangan bahan,” kata Plt Direktur Jenderal (Dirjen) Minerba Kementerian ESDM Muhammad Wafid di Kementerian ESDM, Senin (28/8/2023).
Direktorat Jenderal (Ditjen) Minerba Kementerian ESDM melakukan perhitungan seluruh Rencana Keuangan dan Anggaran Biaya (RKAB) nikel yang dikeluarkan untuk memastikan bahan baku tercukupi untuk smelter di dalam negeri.
“Saya sampaikan bahwa saya coba hitung seluruh RKAB yang sudah kita setujui jumlahnya, berapa input nikel yang dibutuhkan, berapa hasilnya. Masih cukup,” jelas Wafid.
Wafid pun tidak mengerti kenapa ada perusahaan pengolahan nikel di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang melakukan impor, padahal produksi ore nikel di dalam negeri sudah terpenuhi.
“Tidak ada kekurangan di sekitar Sultra, jadi terpaksa harus impor mungkin hal lain ya,” katanya.
Mengacu pada laporan Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), produksi nikel dunia mencapai 3,3 juta ton pada tahun 2022. Jumlah tersebut meningkat 20,88 persen dibandingkan pada tahun 2021 sebanyak 2,73 ton.
Produksi Indonesia mencapai 1,6 juta ton pada tahun 2022. Angka ini lebih tinggi dibandingkan produksi Philipina sebanyak 330.000 ton. (Louis/Rd)





