Bocimi Longsor Lagi: Luka Lama Terbuka Kembali

Satu Tahun Pasca Peresmian, Tol Baru Amblas

JAKARTA, BN NASIONAL

Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) yang baru d iresmikan tahun lalu kembali menghadirkan luka. Longsor di pintu keluar Gerbang Tol (GT) Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, mengundang pertanyaan publik. Bagaimana bisa jalan tol yang belum genap satu tahun beroperasi mengalami kerusakan fatal?

Dugaan kesalahan drainase permukaan jalan mencuat sebagai penyebab utama longsor. Hal ini d iperkuat oleh dokumen Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang mengidentifikasi empat indikator kegagalan sistem drainase: kemiringan melintang jalan yang tidak sesuai, selokan samping yang tidak berfungsi, kesalahan konstruksi gorong-gorong, dan drainase saluran penangkap yang tidak optimal seperti d ikutip dari Antaranews.com.

Jalan Baru, Luka Lama

Bocimi memang bukan jalan tol yang asing dengan masalah. Pembangunannya sempat terhenti selama bertahun-tahun karena berbagai kendala, termasuk pembebasan lahan dan pendanaan. Ketika akhirnya d iresmikan, harapan masyarakat untuk akses yang lebih mudah dan cepat pun muncul.

Baca juga  Pemerintah dan DPR Masih Belum Transparan, BEM Se-UI: Buka Akses Draf Terbaru RKUHP!

Namun, longsor yang terjadi mengungkit kembali luka lama Bocimi. Pertanyaan tentang kualitas konstruksi dan pengawasan proyek kembali mengemuka. Publik bertanya-tanya, apakah tragedi ini bisa d ihindari jika perencanaan dan pelaksanaan konstruksi d ilakukan dengan lebih cermat?

Penelusuran Akar Permasalahan

Dugaan kesalahan drainase permukaan jalan menjadi titik awal penelusuran akar permasalahan. Kemiringan jalan yang tidak tepat, selokan yang tersumbat, dan gorong-gorong yang tidak sesuai desain menjadi faktor yang berkontribusi pada longsor.

Lebih dalam lagi, publik mempertanyakan proses perencanaan dan pelaksanaan konstruksi. Apakah desain drainase sudah memperhitungkan kondisi topografi dan curah hujan di wilayah tersebut? Apakah material yang d igunakan berkualitas dan sesuai dengan spesifikasi? Apakah pengawasan terhadap proses pembangunan d ilakukan dengan ketat?

Mencari Solusi dan Pencegahan

Tragedi longsor Bocimi menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Pentingnya perencanaan dan pelaksanaan konstruksi yang tepat, terutama sistem drainase, harus menjadi prioritas utama. Pemeliharaan drainase jalan yang berkelanjutan dan evaluasi desain dan konstruksi jalan tol juga perlu d ilakukan untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa depan.

Baca juga  Indonesia-Inggris Perbarui MoU Kerja Sama Pertahanan

Masyarakat pun menaruh harapan besar agar tragedi Bocimi menjadi titik balik dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia. Kualitas dan keselamatan harus menjadi pertimbangan utama, bukan sekadar mengejar target penyelesaian.

Hanya dengan mengevaluasi dan memperbaiki sistem secara menyeluruh, luka lama Bocimi tidak akan terulang kembali.*[]