JAKARTA, BN NASIONAL – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Nuclear Human Resource Development Center (NuHRDeC) Japan Atomic Energy Agency (JAEA) mempercepat penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) bidang nuklir melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).
Upaya ini diwujudkan dalam pelatihan Follow Up Training on Reactor Engineering and Safety yang digelar di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, pada 17-21 Februari 2025.
Pelatihan ini menjadi langkah strategis dalam menyiapkan tenaga ahli untuk mendukung percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), sebagai bagian dari transisi energi bersih di Indonesia.
“Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas SDM BRIN dalam bidang rekayasa dan keselamatan reaktor nuklir, sejalan dengan visi BRIN menciptakan tenaga ahli nuklir yang kompeten,” ujar Arvita Rosmawati, dari Direktorat Pengembangan Kompetensi BRIN, Selasa (18/2/2025).
Kunihiko Nabeshima, perwakilan NuHRDeC JAEA, menegaskan bahwa pelatihan ini menjadi ajang berbagi pengetahuan terkait teknologi terbaru dan penerapan AI dalam pengoperasian serta pengamanan reaktor nuklir. Penggunaan AI dinilai mampu meningkatkan efisiensi pemantauan reaktor dan mengoptimalkan sistem keselamatan.
Koordinator pelaksana dari Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir BRIN, Andi Sofrany Ekariansyah, mengungkapkan pelatihan ini telah rutin digelar sejak 2010, meskipun sempat terhenti akibat pandemi COVID-19.
“Follow Up Training on Reactor Engineering and Safety I telah dilaksanakan delapan kali, sedangkan Follow Up Training on Reactor Engineering and Safety II empat kali,” katanya.
Pelatihan kali ini diikuti para periset, akademisi, perwakilan badan pengawas, serta industri yang memiliki latar belakang rekayasa reaktor. Mereka dibekali pengetahuan terkait prinsip dasar rekayasa reaktor, sistem keselamatan, analisis risiko, studi kasus insiden nuklir global, termasuk tragedi Fukushima, serta penerapan AI untuk mitigasi risiko.
Transfer ilmu dan teknologi dari JAEA ini diharapkan mencetak tenaga ahli yang memahami desain reaktor, sistem keselamatan, serta mampu mengantisipasi risiko dalam pengoperasian reaktor nuklir. Kehadiran SDM unggul ini dinilai krusial dalam mendukung ketahanan energi nasional berbasis energi bersih.
“Pelatihan ini menjadi langkah nyata membangun ekosistem SDM yang kuat untuk mengawal pengembangan PLTN di Indonesia, demi mewujudkan transisi energi bersih dan kemandirian energi nasional,” ujar Andi Sofrany.





