JAKARTA, BN NASIONAL – Isu nuklir selama ini kerap dikaitkan dengan ancaman bom atom Hiroshima dan tragedi Chernobyl. Namun, pemanfaatan nuklir yang berlandaskan konsep nuklir damai justru menyimpan potensi besar untuk mendukung berbagai sektor di Indonesia.
”Perlu diketahui, secara alami radiasi ada di sekitar kita, yang disebut juga dengan sumber radiasi alam. Matahari, batu, hingga tubuh manusia juga memancarkan radiasi secara alami,” kata Pengembang Teknologi Nuklir di Direktorat Pengelolaan Fasilitas Ketenaganukliran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aidhanis Kusuma Praja dalam acara Ikaga Campus Expo 2025 di Yogyakarta, Senin (17/2/2025).
Menurut Aidhanis, radiasi terdiri dari berbagai jenis, seperti alfa, beta, dan gamma. Meski tak kasatmata, radiasi mampu menembus materi dan mengubah sifat fisika serta kimia dari materi yang dilewatinya.
“Apabila bekerja dengan sumber radiasi tingkat tinggi, maka diperlukan proteksi radiasi. Gunakan pelindung yang tepat, jaga jarak dengan sumber radiasi, dan bekerja dengan cepat serta efektif,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemanfaatan nuklir di Indonesia sudah berjalan lebih dari 70 tahun untuk kepentingan damai. Sejumlah riset menunjukkan manfaat nuklir di berbagai bidang.
“Mutasi radiasi pada tanaman, misalnya, mampu menghasilkan varietas beras yang tahan hama wereng. Di sektor pangan, nuklir diaplikasikan untuk pengawetan produk siap saji agar lebih awet. Teknik serangga mandul juga efektif menekan populasi nyamuk,” jelas Aidhanis.
Nuklir juga berperan penting dalam dunia medis, salah satunya melalui inovasi Bonescan Kaef yang bermanfaat untuk mendeteksi penyakit tulang.
Di sektor energi, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) menjadi solusi energi bersih dan berkelanjutan. Saat ini, lebih dari 400 PLTN beroperasi di 30 negara. Sayangnya, Indonesia belum memiliki PLTN.
Meski begitu, Indonesia telah memiliki tiga reaktor riset, yakni Reaktor Triga 2000 di Bandung, Reaktor Kartini di Yogyakarta, dan Reaktor G.A Siwabessy di Serpong. Ketiganya digunakan untuk penelitian dan pengembangan teknologi nuklir.
”Banyak pemanfaatan reaktor seperti produksi isotop, pelatihan, pewarnaan batu permata, teknik neutron scattering, analisis aktivasi neutron, radiografi, hingga pengembangan elemen bahan bakar nuklir,” kata Aidhanis.
Aidhanis mengutip pernyataan Presiden Soekarno bahwa bangsa yang tidak menguasai teknologi atom akan tertinggal dalam perlombaan peradaban.
“Pemanfaatan nuklir adalah peluang besar bagi Indonesia untuk mengakselerasi kemajuan teknologi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.





