BRIN dan KAERI Bahas Kerja Sama Dekontaminasi Fasilitas Nuklir di KST B.J. Habibie Serpong  

JAKARTA, BN NASIONAL – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menerima kunjungan delegasi Korea Atomic Energy Research Institute (KAERI) di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Selasa (3/12/2024).

Pertemuan ini bertujuan membahas kerja sama strategis terkait program dekontaminasi fasilitas nuklir, khususnya di Gedung 10, KST B.J. Habibie, Serpong.  

Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN, Syaiful Bakhri, menyatakan bahwa kunjungan ini merupakan langkah awal untuk memetakan rencana dan tahap-tahap kerja sama kedua institusi. 

“Setelah melihat langsung kondisi Gedung 10 dan fasilitas pengelolaan limbah, kami akan melanjutkan dengan perencanaan dan dokumentasi resmi kerja sama ini, sebagaimana draf awal perjanjian antara BRIN dan KAERI,” ujar Syaiful.  

Ia menambahkan, KAERI merupakan mitra yang tepat untuk mendukung pengembangan program dekontaminasi BRIN, sekaligus memperkuat hubungan bilateral Indonesia-Korea di sektor nuklir. 

Baca juga  Satgas COVID: Warga Baturaja Sumsel Dilarang Rayakan Malam Tahun Baru

“Kami berharap kolaborasi ini dapat diperluas, tidak hanya pada dekontaminasi dan pengolahan limbah, tetapi juga mencakup revitalisasi reaktor riset nuklir dan model bisnis farmasi, termasuk infrastruktur pendukungnya,” ungkapnya.  

Principal Researcher sekaligus Direktur Decommissioning Technology Division KAERI, Bum Kyoung Seo, menjelaskan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk memastikan kondisi teknis Gedung 10. 

“Kami ingin mengonfirmasi dan mengkoordinasikan ruang lingkup kerja sama serta persyaratan yang diperlukan untuk kolaborasi yang lebih efektif dan bermakna,” katanya.  

Ia juga mengungkapkan bahwa KAERI telah berpengalaman selama lebih dari 20 tahun dalam bidang dekontaminasi, pengolahan limbah, dan remediasi tanah. Kolaborasi dengan BRIN diharapkan dapat membantu menyelesaikan tantangan yang dihadapi oleh BRIN, terutama dalam revitalisasi fasilitas nuklir dan penanganan tanah terkontaminasi.  

“Jika teknologi KAERI dan fasilitas BRIN berkolaborasi, kami yakin tantangan ini dapat diatasi,” tambah Bum.  

Baca juga  IOF menyerang petani zaitun di Tepi Barat dan mengusir mereka dari tanah mereka

Senada dengan itu, Principal Researcher Decontamination Team KAERI, Seon Byeong Kim, menyatakan bahwa kerja sama ini akan membuka peluang pertukaran pengetahuan antara kedua lembaga. 

“Kami memiliki reaktor riset lama yang tidak lagi diaktifkan, berbeda dengan milik BRIN yang akan digunakan kembali. Ini menjadi kesempatan bagi kami untuk berbagi pengalaman sekaligus belajar dari proses di BRIN,” jelasnya.  

Seon menyebut hasil pertemuan ini akan dituangkan dalam dokumen kesepakatan resmi antara BRIN dan KAERI, dengan harapan pelaksanaan program bisa dimulai awal tahun depan.  

Kepala Pusat Riset Teknologi Daur Bahan Bakar Nuklir dan Limbah Radioaktif (PRTDBBNLR) BRIN, Maman Kartaman Ajiriyanto, menjelaskan bahwa kerja sama ini didasari oleh keahlian KAERI dalam riset dekontaminasi, seperti pengolahan limbah cair aktivitas tinggi dan remediasi tanah terkontaminasi Cs-137.  

“Dalam lingkup kerja sama, periset BRIN akan mendapatkan pelatihan dan riset bersama di fasilitas KAERI selama 1-3 bulan, serta berkolaborasi dalam pengembangan metode dan purwarupa pengelolaan limbah cair aktivitas tinggi,” jelasnya.  

Baca juga  Brin Kembangkan Metode Recycle Baterai Litium Ramah Lingkungan

Ia berharap, setelah program dekontaminasi selesai, Gedung 10 dapat kembali berfungsi seperti semula, khususnya untuk produksi radioisotop dan radiofarmaka.

“Kami optimis fasilitas ini dapat mendukung kebutuhan nasional di bidang medis dan riset,” pungkasnya.  

Kolaborasi antara BRIN dan KAERI diharapkan tidak hanya menyelesaikan isu teknis, tetapi juga menjadi pijakan untuk memperluas kerja sama di bidang nuklir.

“Melalui kemitraan ini, kami berharap dapat meningkatkan kapabilitas teknologi nuklir Indonesia, sekaligus membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan,” tutup Syaiful.