Dirut PT Timah (TINS) Akui Belum Dapat Teknologi Pengolahan Logam Tanah Jarang

JAKARTA, BN NASIONAL – Meski sejak lama PT Timah (TINS) berupaya untuk mengembangkan logam tanah jarang (LTJ) atau Rare Earth Element (RRE), pihaknya sampai saat ini belum memiliki teknologinya.

Direktur Utama PT Timah Restu Widiyantoro mengatakan, perusahaan sudah berusaha melakukan pengembangan pengolahan LTJ ini sejak 10 tahun terakhir, namun keterbatasan teknologi menjadi penghalang besar.

“Sampai dengan hari ini kami akui progresnya sangat terbatas karena yang memiliki teknologi ini ternyata hanya satu atau dua pihak yang ada di dunia,” kata Restu dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI, Rabu (14/5/2025).

Proyek pengembangan pilot plant pengolahan LTJ PT Timah yang berlokasi di Tanjung Ular, Bangka Barat fokus untuk melakukan proses monasit.

Saat ini, pihaknya sedang melakukan komunikasi dan penjajakan dengan pihak lain yang memiliki teknologi untuk pengolahan LTJ, namun belum mendapatkan hasil yang maksimal.

Baca juga  Memahami Kekuatan di Balik Cuaca Ekstrem pada tahun 2024

“Kami sudah mencoba menjajaki dengan berkomunikasi, berkolaborasi untuk kerjasama tapi hingga hari ini teknologi itu belum bisa kami dapatkan,” jelas Restu.

Restu menyebut, negara yang memiliki teknologi pengembangan LTJ saat ini adalah China dan juga Kazakhstan. Teknologi pengolahan LTJ tersebut juga dapat menjadi bahan bakar nuklir.

“Informasinya itu yang memiliki kemampuan untuk mengolah logam tanah jarang ini bahkan nanti sampai menjadi bahan campuran untuk nuklir power itu sampai sekarang hanya Cina atau mohon maaf katanya Kazakhstan dan sebagainya,” ujar Restu.

Meski demikian, PT Timah sampai saat ini masih melakukan pengembangan melalui riset yang dilakukan, serta mencari kerja sama dengan pihak yang memiliki teknologi.

“Sehingga masih akan kami lakukan riset, yang secepat mungkin untuk berkomunikasi membuat MoU dengan mereka untuk dukungan itu,” katanya.

Baca juga  Bisnis | Edisi 15 Feb 2025