Dorong Energi Bersih, ASEAN Serius Garap Fusi Nuklir Sebagai Solusi Masa Depan

JAKARTA, BN NASIONAL – ASEAN mulai menatap fusi nuklir sebagai solusi energi bersih masa depan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menekan emisi karbon.

Indonesia turut berperan aktif dalam agenda ini dengan berpartisipasi dalam ASEAN to School on Plasma and Nuclear Fusion 2025 serta ASEAN-IAEA Meeting on Potential Cooperation in Plasma and Nuclear Fusion yang digelar di Bangkok, Thailand, Jumat (17/1/2025).

Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN, Syaiful Bakhri, menegaskan bahwa fusi nuklir bisa menjadi game changer bagi ketahanan energi ASEAN.

“Teknologi ini menjanjikan energi bersih yang melimpah dan berkelanjutan. Melalui kerja sama dengan IAEA dan negara-negara ASEAN lainnya, kita bisa mempercepat riset dan inovasi di bidang ini,” ujar Syaiful dalam keterangannya, Kamis (6/2/2025).

Indonesia Dorong Riset dan Kolaborasi Regional
Dalam pertemuan ini, Indonesia melaporkan perkembangan riset nuklirnya, termasuk:

  • Penelitian reaktor nuklir dan pengelolaan limbah radioaktif
  • Pengembangan akselerator untuk aplikasi medis dan industri
  • Produksi radioisotop untuk terapi kanker
  • Inisiatif fusi nuklir dan penguatan SDM melalui program akademik
    Langkah ini semakin memperjelas komitmen Indonesia dalam membangun ekosistem energi bersih berbasis nuklir yang aman dan berkelanjutan.
Baca juga  Tancap Gas Implementasi Kepmen ESDM No 110 Tahun 2024, Kepala SKK Migas Kumpulkan CEO KKKS untuk Percepatan Produksi

Kolaborasi ASEAN-IAEA: Dari Riset hingga Kekayaan Intelektual
Pertemuan ASEAN-IAEA juga menghasilkan kerja sama penting, salah satunya adalah penandatanganan Practical Arrangements (PA) antara IAEA dan Thailand Institute of Nuclear Technology (TINT). Kesepakatan ini menjadi landasan dalam pengembangan teknologi nuklir di kawasan ASEAN.

Selain itu, delegasi Indonesia melakukan kunjungan ke Department of Intellectual Property (DIP) Thailand untuk mempelajari sistem manajemen kekayaan intelektual berbasis AI.

“Kami melihat bagaimana Thailand mempercepat pendaftaran paten dengan kecerdasan buatan. Ini bisa menjadi referensi bagi Indonesia untuk meningkatkan efisiensi sistem perlindungan dan komersialisasi inovasi nuklir,” ujar Direktur Manajemen Kekayaan Intelektual BRIN Muhammad Abdul Kholiq.