Hindari Penyimpangan Teknolohi Nuklir, BRIN Tambahkan Protokol

JAKARTA, BN NASIONAL

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan perlunya protokol tambahan (AP) dalam riset bahan nuklir untuk mendeteksi kegiatan tersembunyi (clandestine activity). Penegasan ini disampaikan dalam Webinar Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif bertajuk “Pentingnya Additional Protocol (AP) dalam Riset Bahan Nuklir” pada Rabu (3/4/2024).

Kepala Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif BRIN Syaiful Bakhri mengatakan, AP menjadi instrumen penting untuk memastikan transparansi dan kepatuhan dalam penelitian bahan nuklir.

“AP membantu para periset yang menggunakan bahan nuklir agar tidak menyimpang dari SOP dan tata kelola yang ada,” kata Syaiful.

Pelaksanaan deklarasi AP merujuk pada perjanjian tambahan yang disepakati oleh negara-negara yang telah menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (Non-Proliferation Treaty/NPT). Indonesia, sebagai salah satu negara penandatangan NPT, berkomitmen untuk menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan damai.

Baca juga  Rusia Sukses Gelar Uji Coba Peluncuran Rudal Balistik Antarbenua Usai Penangguhan Perjanjian Pengendalian Senjata Nuklir

“AP menjadi penting untuk memastikan transparansi dan kepatuhan dalam penelitian bahan nuklir,” jelas Syaiful.

Penerapan prinsip AP akan mempermudah Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) maupun International Atomic Energy Agency (IAEA) dalam melakukan evaluasi pada fasilitas nuklir.

“Desain fasilitas instalasi ketenaganukliran, baik itu reaktor, bahan bakar nuklir, pengolahan limbah, harus memperhitungkan safeguard dari awal,” ujar Syaiful.

Evaluasi dari BAPETEN dan IAEA bisa datang sewaktu-waktu. Peneliti diharuskan mengikuti protokol, mendeklarasikan bahan nuklir yang gunakan AP, dan selalu memegang safeguard dalam pelaksanaan riset.

“Hal ini untuk menjamin keselamatan, keamanan, dan pertanggungjawaban kepada BAPETEN sebagai regulator maupun kepada dunia internasional,” kata Syaiful.

Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN Rohadi Awaludin menambahkan, nuklir identik dengan 3S, yaitu safety, security, dan safeguard.

“3S ini akan terus diterapkan, dan bagian terakhir yaitu safeguard yang tentunya akan melebar sampai ke protokol tambahan,” kata Rohadi.

Baca juga  Chanel Untuk Mengubah Arah Kreatif. Apakah Konsumen Barang Mewah Siap Menghadapinya?

Rohadi menegaskan, pemahaman periset tentang lingkup-lingkup eksternal protokol sangat penting, terutama ketika mereka bersinggungan dengan bahan nuklir dan bahan fisil.*[]