Ini Fakta Kemajuan AI dan Robot di Dunia Gantikan Manusia

by admin
6 minutes read

Jakarta, BN Nasional — Namun, hal tersebut perlahan memicu kekhawatiran bahwa peran manusia pada akhirnya akan tergantikan di berbagai bidang. Banyak peneliti yang memprediksi bahwa kemajuan teknologi semakin pesat dan bahkan membuat dunia kerja dikuasai oleh robot-robot canggih.

Di Indonesia, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, bahwa Pegawai Negeri Sipil (PNS) eselon III dan IV akan diganti dengan AI untuk mempercepat proses birokrasi. Menurut Kepala Biro Hukum, Humas, dan Kerja Sama Badan kepegawaian Negara (BKN), Satya Pratama, digitalisami sudah mulai dilakukan pada sektor layanan publik maupun manajemen Aparatur Sipil Negara (ASN) dałam beberapa tahun terakhir.

Satya mengatakan, berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, pekerjaan yang sifatnya administratif, rutinitas, dan repetitif, serta memiliki prosedur operasi standar jelas dapat digantikan dengan teknologi. Transformasi digital akan terus dilakukan di Nusantara, namun bukan berarti semua PNS akan digantikan oleh robot cerdas.

Dalam sejumlah film fiksi ilmiah, cerita mengenai robot pengganti manusia beberapa kali diangkat. Seperti di Surrogates, garapan sutradara Jonathan Mostow yang menceritakan bahwa di masa depan, dunia dipenuhi dengan robot yang disebut Surrogates.

Surrogates adalah sebuah robot berteknologi tinggi yang bisa dikendalikan dari jarak jauh untuk melakukan apa saja. Dengan memilikinya, manusia bisa merasakan aktivitas di luar tanpa khawatir akan terluka, tertular penyakit, atau terancam bahaya lainnya karena kontak dengan orang lain.

AI secara khusus berbentuk robot

Di beberapa negara di dunia, AI, secara khusus berbentuk robot telah menjadi bagian besar dari bidang medis, pertanian, perawatan rumah, hingga eksplorasi ruang angkasa. Banyak di antaranya merupakan negara-negara maju, seperti Korea Selatan (Korsel) yang terkenal sebagai yang terdepan dalam menggunakan robot dalam kegiatan industri manufaktur. Tercatat ada 631 robot yang bekerja untuk setiap 10 ribu pekerja di Negeri Ginseng itu.

Selanjutnya, di Singapura, negara ini tercatat sebagai salah satu pengguna teknologi robot terbesar di dunia, dengan 90 persen robot bekerja di sektor industri elektronik. Ada sebanyak 488 robot yang digunakan untuk setiap 10 ribu pekerja.

Di Jerman, teknologi robot digunakan untuk kemajuan industri otomotif, di mana jumlahnya sekitar 309 mesin robot untuk setiap 10 ribu pekerja. Selanjutnya di Jepang, AI digunakan mayoritas pada bidang yang sama, yaitu pembuatan kendaraan, di mana ada 303 mesin robot per 10 ribu pekerja.

Denmark juga menjadi salah satu negara yang memanfaatkan robot dalam memajukan industri energi terbarukan. Banyak pengusaha di negara itu yang menggunakan 211 robot untuk 10 ribu pekerja di bidang pembuatan mesin yang mencapai 25 persen dari total produksi nasional negara itu.

Pengembangan AI juga dapat membantu kemajuan di berbagai bidang yang mungkin terlewatkan oleh manusia. Seperti di Swiss, sebuah perusahaan start-up bernama ecoRobotix mengambangkan teknologi dan karakteristik tanah suatu lahan untuk meminimalisasi kegagalan panen.

Bahkan, AI telah menjadi penyelamat bagi negara-negara berkembang selama pandemi virus corona jenis baru (Covid-19) terjadi sejak 2020. Dilansir Blogs.Worldbank, teknologi ini membantu mempertahankan layanan penting dan mempertahankan perusahaan dalam menjalankan bisnis.

Sebelum pandemi Covid-19, penggunaan komersial AI berkembang pesat di pasar negara berkembang, di bidang mulai dari manufaktur dan energi hingga pendidikan dan layanan keuangan. Aturan pembatasan seperti lockdown atau karantina wilayah yang diperlukan dan larangan perjalanan yang diberlakukan oleh banyak negara du dunia telah mempercepat tren itu.

Perusahaan seperti Clinicas de Azucar di Meksiko menggunakan AI untuk menganalisis data dan meningkatkan hasil kesehatan bagi ribuan pasien diabetes yang berisiko. Di India, 1mg menggunakan teknologi untuk membantu pelanggan membandingkan harga layanan medis dari berbagai laboratorium.

Penerapan strategis teknologi seperti AI dapat menjadi bagian penting dari upaya pembangunan kembali, membantu meningkatkan produktivitas dan mendorong generasi baru perusahaan inovatif. Untuk memanfaatkan peluang ini, pembuat kebijakan di negara-negara harus mengambil langkah untuk mempersiapkan masa depan yang didorong oleh kecerdasan buatan.

Optimalisasi tugas

Seperti yang dibahas sebelumnya, menggunakan AI untuk mengotomatisasi tugas terkadang dapat mengancam untuk menggantikan pekerja, termasuk di industri yang mendorong pembangunan ekonomi. Selain itu, ada masalah privasi terkait penggunaan teknologi ini, karena beberapa perusahaan disebut dapat memanen dan menjual data konsumen untuk mendapatkan keuntungan.

Lebih lanjut, ada semakin banyak pertanyaan tentang seberapa besar data akan mempengaruhi kesenjangan digital. Penting untuk menerapkan perlindunga, seperti standar industri dan kerangka peraturan, untuk memandu pertumbuhan sektor teknologi dengan cara yang membangun kepercayaan publik.

Menjamin privasi data dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk difusi teknologi yang inklusif akan menjadi penting. Dalam laporan terbaru dari IFC, berjudul : ‘AI in Emerging Markets – Opportunities, Trends, and Emerging Business Models’ disebutkan beberapa contoh bagaimana kecerdasan buatan memiliki dampak transformasional dengan membantu negara membuka kekuatan inovasi.

Membangun infrastruktur yang kompleks dan mahal yang dibutuhkan untuk transportasi, energi, perawatan kesehatan, dan pendidikan adalah proses panjang yang dapat memakan waktu puluhan tahun dan upaya dari seluruh generasi. Beruntung, AI menciptakan solusi digital inovatif yang memungkinkan negara berkembang mengatasi kesenjangan infrastruktur yang ada dengan lebih cepat dan efisien.

Di beberapa sektor, AI menawarkan cara baru kepada negara-negara untuk meningkatkan produktivitas. Kecerdasan buatan memungkinkan mereka dapat sepenuhnya melompati model pembangunan tradisional, mengabaikan kebutuhan untuk membangun infrastruktur yang mahal atau, setidaknya, membuatnya jauh lebih sedikit padat modal.

Meskipun memiliki berbagai keunggulan, AI dan berbagai produk turunannya seperti robot diyakini tidak akan sepenuhnya dapat menggantikan peran manusia dalam berbagai bidang. Bagaimanapun, ini merupakan karya buatan manusia, yang menjadi alat untuk dapat bekerja jika manusia memberikannya instruksi dengan benar.

Karena itu, AI pada akhirnya justru ditujukan membuat manusia dan teknologi dapat saling bekerjasama, dengan fungsi manusia sebagai pengedali dan teknologi menyediakan hal yang diprogram. Namun, sejumlah ahli mengatakan bahwa beberapa bidang tidak cocok dalam menerapkan teknologi ini.

Di antaranya seoerti bidang marketing, di mana robot atau mesin berbasis AI tidak dapat mengganti peran manusia dalam membangun hubungan kuat dengan klien. Teknologi ini belum dapat melakukan pekerjaan sebaik manusia, seperti memahami pentingnya nilai komunikasi dan empati.

Sementara itu, Stuart Russell, pendiri Center for Human-Compatible Artificial Intelligence, di University of California, Berkeley, Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa tujuan AI adalah melakukan hampir semua hal yang dilakukan manusia. Ia menuturkan bahwa mesin memiliki bandwidth besar dan keunggulan memori dibandingkan manusia, membuat bahwa pekerjaan yang dilakukannya lebih cepat.

Dilansir //BBC//, Russell mengatakan bahwa manusia pada akhirnya bisa berada dalam titik bahaya yang ekstrem karena kemajuan AI. Ia menyebut salah satu yang perlu diperhatikan, algoritme yang dimiliki robot dan teknologi ini belum mendekati kemampuan manusia secara umum.

“Tapi, ketika Anda menjalankan miliaran algoritme tersebut, mereka masih dapat memiliki efek yang sangat besar pada dunia,” ujar Russell.

Alasan lain untuk khawatir adalah bahwa itu sepenuhnya masuk akal, menurut Russell adalah karena AI akan memiliki tujuan umum baik dalam masa hidup saat ini atau dalam masa hidup anak-anak generasi selanjutnya. Ia berpikir jika AI tujuan umum dibuat dalam konteks persaingan negara adidaya saat ini,maka siapa pun yang menguasai dunia, mentalitas semacam itu, maka hasilnya bisa menjadi yang terburuk.

Meski demikian, Russell mengatakan, bahwa reaksi khawatir dari masyarakat dunia atas kemajuan AI bukanlah hal yang tepat. Namun, tidak ada salahnya ada sedikit rasa takut, sama seperti manusia mengkhawatirkan tentang perubahan iklim di dunia.

“Saya pikir sedikit rasa takut diperlukan, karena itulah yang membuat Anda bertindak sekarang daripada bertindak ketika sudah terlambat, yang sebenarnya adalah apa yang telah kita lakukan dengan iklim,” kata Russell.

Sumber.

related posts