MonMang, Aplikasi Canggih untuk Monitor Hutan Mangrove

Bali, BN Nasional – Aplikasi Monitoring Mangrove (MonMang) merupakan aplikasi yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memonitor hutan mangrove yang dibangun berdasarkan data hasil riset yang telah dilakukan oleh beberapa institusi dari berbagai negara dan terus berlanjut hingga saat ini.

Aplikasi ini menjadi salah satu yang mendapatkan pendanaan dari Archipelagic and Island State (AIS) Forum. Peneliti Pusat Riset Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wayan Eka Dharmawan mengatakan awal mula apilikasi MonMang dibuat berawal dari permasalahan database terkait hutan mangrove.

“Aplikasi ini sangat ramah dan mudah untuk digunakan namun untuk menggunakan apilikasi ini harus melalui pelatihan dan sertifikasi untuk menambahkan data pengawasan hutan mangrove ke database,” kata Wayan pada Side event: The Blue Innovation Solution Conference di Nusa Dua, Bali, Senin (5/12/2022).

Baca juga  Market Kripto Chaos, Gary Gensler Prediksi Bakal Ada Koin yang Ambruk Lagi

Dikatakan Wayan, beberapa institusi melakukan riset pengawasan hutan mangrove secara terpisah dan data dari hasil monitoring disimpan secara terpisah. Selain itu, masalah yang terjadi adalah institusi yang berbeda menggunakan metode yang berbeda sehingga data yang dihasilkan tidak bisa dikomparasi dengan data yang lain.

Masalah yang terakhir adalah standar berbeda yang digunakan dalam mengawasi hutan mangrove. Dari permasalahan tersebut perlu adanya sebuah platform untuk menyatukan pengawasan mangrove secara terintegrasi.

Hingga saat ini, MonMang sudah mencapai versi ke-3 semenjak dibuat dari tahun 2014. Setiap versi terdapat pembaruan dan pada versi ke-3 sudah dibentuk database mangrove. Pengguna apilikasi MonMang tidak hanya dari Indonesia saja tetapi juga dari negara seperti Jerman, Jepang, UAE, dan masih banyak lagi.

Target dari pengguna apilikasi ini tidak hanya periset, melainkan masyarakat yang tertarik akan kelestarian hutan mangrove dan mereka yang tertarik dengan sains.

Baca juga  Bersama IAEA, Bapeten Gelar Pelatihan Deteksi Keamanan Nuklir

“Apilikasi ini tidak dapat berdiri sendiri, oleh sebab itu dibutuhkan kolaborasi dengan berbagai institusi agar database dapat selalu diperbarui dan dapat digunakan sebagai media edukasi bagi siapapun,” ujar Wayan. (Louis)