JAKARTA, BN NASIONAL
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan, baterai litium-ion berjenis lithium ferro phosphate (LFP) dan nickel manganese cobalt (NMC) memiliki target pasar yang berbeda karena karakteristiknya masing-masing jenis.
Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Pengembangann Industri Sektor ESDM Agus Tjahajana menjelaskan, pasar kelas bawah lebih banyak menggunakan baterai LFP, sedangkan kelas atas d idominasi menggunakan NMC.
“Kelas bawah sama kelas atas dua-duanya kan menguntungkan. Kelas atas kan mahal, jadi baterai tidak ada artinya, ngapain pakai LFP yang jaraknya pendek dan berat. Jadi semua tergantung desain,” kata Agus saat d itemui di Kementerian ESDM, Jumat (26/1/2024).
Menurut Agus, Indonesia mengimpor baterai LFP bukan menjadi suatu masalah. Pasalnya, kendaraan listrik di Indonesia dan masyarakatnya masih menggemari mobil listrik kelas bawah.
“Kalau saya di perindustrian tidak membatasi harus pakai NMC karena kita punya NMC, orang bisa kabur. Silahkan saja (pakai LFP), siapa tau nanti ada laboratorium kita yang pinter yang bisa mendapatkan NCM yang lebih,” jelas Agus.
D iketahui, Baterai LFP menggunakan bahan katoda berbasis besi fosfat (LiFePO4), sedangkan baterai NMC menggunakan bahan katoda berbasis nikel, mangan, dan kobalt.
Selain itu, Baterai NMC memiliki kepadatan energi yang lebih tinggi d ibandingkan dengan baterai LFP. Hal ini berarti baterai NMC dapat menyimpan energi yang lebih banyak dalam volume yang sama. Namun, baterai LFP memiliki keunggulan dalam hal keamanan, karena lebih stabil dan kurang rentan terhadap kebakaran atau ledakan
Dari sisi harga, baterai LFP umumnya lebih murah d ibandingkan dengan baterai NMC. Hal ini membuat baterai LFP menjadi pilihan yang lebih terjangkau dalam beberapa aplikasi, terutama dalam kendaraan listrik
“LFP sekitar 60US$ per Kg, NMC itu sudah 80US$ per Kg, dulu itu 2019 masih 150US$ per Kg,” katanya.(*)





