JAKARTA, BN NASIONAL
Pemanfaatan gas bumi domestik untuk sektor industri kian d iminati. Hal ini terlihat dari dominasi penyerapan gas bumi oleh sektor tersebut, meskipun secara keseluruhan belum signifikan.
“Pemanfaatan gas domestik sejak 2012 sudah lebih tinggi ketimbang ekspor,” ungkap Koordinator Penyiapan Program Migas D itjen Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Rizal Fajar Muttaqien di Jakarta, Selasa (28/02/2024).
Rizal menegaskan komitmen pemerintah dalam mendorong pemanfaatan gas bumi untuk keperluan domestik. Hal ini sejalan dengan upaya untuk mengurangi ekspor dan menjaga ketahanan energi nasional.
Data menunjukkan bahwa pada tahun 2023, porsi pemanfaatan gas bumi untuk sektor industri mencapai 30,83%. D iikuti ketenagalistrikan (11,82%), dan pabrik pupuk (11%). Sementara itu, ekspor LNG dan gas pipa masing-masing sebesar 22,18% dan 8,4%. Total konsumsi gas pada akhir 2023 mencapai 5.868 BBTU.
“Pemerintah terus berupaya mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi melalui pembangunan infrastruktur penunjang secara berkelanjutan. Ini demi menyalurkan gas bagi kebutuhan dalam negeri,” jelas Rizal.
Upaya lain yang d ilakukan adalah penataan demand yang dekat dengan potensi supply gas bumi atau infrastruktur gas bumi. Hal ini d iharapkan dapat meningkatkan efisiensi dalam penyaluran gas bumi.
Gas Bumi sebagai Jembatan Transisi Energi
Ketua Indonesia Gas Society (IGS) Aris Mulya Azof menuturkan bahwa gas bumi d iharapkan menjadi jembatan transisi energi. Menurutnya, gas bumi merupakan komoditas yang paling murah dan mudah d imanfaatkan d ibandingkan sumber energi fosil lainnya.
“Secara emisi, gas bumi memiliki CO2 per ton total kalorinya masih lebih rendah d ibanding minyak bumi, batu bara, dan diesel,” kata Aris.
Gas bumi memiliki nilai kalori yang lebih tinggi d ibandingkan sumber energi fosil lainnya. Nilai kalor gas bumi mencapai 12.500 kcal/kg, dua kali lipat lebih tinggi d ibandingkan batu bara.
“Nilai kalor lebih tinggi, artinya efisiensi energi lebih baik. Kalau d ibandingkan minyak, diesel, gas punya efisiensi lebih besar 1,2 kali lipat,” jelas Aris.
Pemanfaatan gas bumi saat ini sebagian besar d igunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik tenaga gas dan uap, industri ringan, bahan bakar kendaraan bermotor, hingga gas jaringan untuk kebutuhan rumah tangga.
“Di sektor industri, pemanfaatan gas sudah semakin dominan. Ini nantinya perlu dorongan bagaimana pertumbuhan gas akan lebih d imanfaatkan. Gas juga bisa d imanfaatkan untuk kepentingan industri hilir seperti pupuk dan petrokimia,” ujar Aris.
Aris menambahkan, cadangan gas bumi Indonesia saat ini sudah lebih dari cukup untuk menopang ketahanan energi nasional. Indonesia memiliki cadangan gas bumi sebesar hampir 55 TCF, yang dapat d imanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, menekan impor, dan mengurangi beban fiskal.
“Temuan gas cukup besar ini mendukung gas dapat d iimplementasikan dan d imanfaatkan sebagai energi transisi sebelum mencapai NZE tahun 2060,” tandasnya.
Pentingnya Integrasi dan Diversifikasi
Pemerintah dan IGS sepakat bahwa optimalisasi pemanfaatan gas bumi memerlukan integrasi dan d iversifikasi infrastruktur. Hal ini dapat d ilakukan dengan membangun infrastruktur terintegrasi yang mencakup pipa transmisi dan distribusi, LNG receiving terminal, hingga moda non pipa lainnya.
D iversifikasi penggunaan gas bumi juga perlu d ilakukan untuk memperluas jangkauan dan manfaatnya bagi masyarakat.
Dengan upaya-upaya tersebut, d iharapkan pemanfaatan gas bumi domestik dapat terus meningkat dan berkontribusi pada ketahanan energi nasional, transisi energi, dan pembangunan ekonomi nasional.*[]





