Proyek Hilirisasi Batubara jadi LPG jadi Salah Satu Prioritas Danantara

JAKARTA, BN NASIONAL – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan salah satu proyek prioritas Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) adalah Dimetil Eter (DME).

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Erani Yustika mengatakan, DME menjadi salah satu proyek prioritas karena dapat memproduksi gas LPG yang dibutuhkan oleh banyak masyarakat.

“Karena ada kebutuhan bagi kita untuk bisa mengelola produksi gas ya untuk LPG itu,” kata Erani saat ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Jumat (19/9/2025).

Nantinya, apabila proyek tersebut berhasil dan mulai berjalan, maka akan berdampak pada ekonomi Indonesia melalui pengurangan impor LPG.

“Kita ada peluang untuk mensubtitusi LPG itu dari DME, kalau itu bisa dilakukan bisa mengurangi impor gas LPG,” ujarnya.

Diketahui, Agustus 2025 lalu Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional telah menyerahkan dokumen pra-studi kelayakan.

18 dokumen pra feasibility study (pra-FS) proyek hilirisasi dengan nilai investasi total sebesar USD38,63 miliar atau setara Rp618,13 triliun yang terdiri dari , 8 proyek hilirisasi di sektor mineral dan batubara, 2 proyek tentang transisi energi, 2 proyek ketahanan energi, 3 proyek hilirisasi pertanian serta 3 proyek hilirisasi kelautan dan perikanan.

Baca juga  Bisnis | Edisi 13 Juli 2024

Ahmad Erani Yustika mengungkapkan, hal tersebut sedang dilakukan percepatan. Senin kemarin sempat juga melakukan rapat terbatas (ratas) mengenai hilirisasi.

“Nah, sekarang sedang dalam pengerjaan FS-nya oleh Danantara. Dan secepatnya itu kan diselesaikan. Hari Senin yang lalu kan ada ratas mengenai hilirisasi,” kata Erani saat ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Jumat (19/9/2025).

Namun, Erani tidak menyebutkan kapan FS tersebut dapat diselesaikan. Pasalnya, setiap proyek memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda.

“Karena masing-masing proyek itu kan berbeda-beda tingkat kesulitan untuk menyelesaikan proyeknya itu. Mungkin yang misalnya refinery beda dengan storage, storage beda dengan yang alumina, alumina beda dengan silika, mungkin beda-beda ya,” jelas Erani.

Ia menambahkan, penyelesaian FS tersebut akan selesai secara bertahap, dan akan rampung secara keseluruhan pada Desember 2025.

“Ya saya kira pasti ini ya, pasti akan ada bertahap pasti ya. Tapi semuanya pasti akan selesai akhir tahun ini lah. Karena harus segera di-eksekusi proyeknya,” katanya.

Baca juga  Hamas menyerukan tindakan mendesak untuk memaksa Israel untuk membuka kembali sekolah UNRWA di Yerusalem

JAKARTA, BN NASIONAL – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan salah satu proyek prioritas Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) adalah Dimetil Eter (DME).

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Erani Yustika mengatakan, DME menjadi salah satu proyek prioritas karena dapat memproduksi gas LPG yang dibutuhkan oleh banyak masyarakat.

“Karena ada kebutuhan bagi kita untuk bisa mengelola produksi gas ya untuk LPG itu,” kata Erani saat ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Jumat (19/9/2025).

Nantinya, apabila proyek tersebut berhasil dan mulai berjalan, maka akan berdampak pada ekonomi Indonesia melalui pengurangan impor LPG.

“Kita ada peluang untuk mensubtitusi LPG itu dari DME, kalau itu bisa dilakukan bisa mengurangi impor gas LPG,” ujarnya.

Diketahui, Agustus 2025 lalu Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional telah menyerahkan dokumen pra-studi kelayakan.

18 dokumen pra feasibility study (pra-FS) proyek hilirisasi dengan nilai investasi total sebesar USD38,63 miliar atau setara Rp618,13 triliun yang terdiri dari , 8 proyek hilirisasi di sektor mineral dan batubara, 2 proyek tentang transisi energi, 2 proyek ketahanan energi, 3 proyek hilirisasi pertanian serta 3 proyek hilirisasi kelautan dan perikanan.

Baca juga  Disney Tahu Anda Lebih Bersemangat untuk Epic Universe Universal Tahun Depan

Ahmad Erani Yustika mengungkapkan, hal tersebut sedang dilakukan percepatan. Senin kemarin sempat juga melakukan rapat terbatas (ratas) mengenai hilirisasi.

“Nah, sekarang sedang dalam pengerjaan FS-nya oleh Danantara. Dan secepatnya itu kan diselesaikan. Hari Senin yang lalu kan ada ratas mengenai hilirisasi,” kata Erani saat ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Jumat (19/9/2025).

Namun, Erani tidak menyebutkan kapan FS tersebut dapat diselesaikan. Pasalnya, setiap proyek memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda.

“Karena masing-masing proyek itu kan berbeda-beda tingkat kesulitan untuk menyelesaikan proyeknya itu. Mungkin yang misalnya refinery beda dengan storage, storage beda dengan yang alumina, alumina beda dengan silika, mungkin beda-beda ya,” jelas Erani.

Ia menambahkan, penyelesaian FS tersebut akan selesai secara bertahap, dan akan rampung secara keseluruhan pada Desember 2025.

“Ya saya kira pasti ini ya, pasti akan ada bertahap pasti ya. Tapi semuanya pasti akan selesai akhir tahun ini lah. Karena harus segera di-eksekusi proyeknya,” katanya.