JAKARTA, BN NASIONAL – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) sedang mempercepat proses studi kelayakan/feasibility study (FS) untuk 18 proyek hilirisasi. Agustus lalu, Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional telah menyerahkan dokumen pra-studi kelayakan.
Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ahmad Erani Yustika mengungkapkan, hal tersebut sedang dilakukan percepatan. Senin kemarin sempat juga melakukan rapat terbatas (ratas) mengenai hilirisasi.
“Nah, sekarang sedang dalam pengerjaan FS-nya oleh Danantara. Dan secepatnya itu kan diselesaikan. Hari Senin yang lalu kan ada ratas mengenai hilirisasi,” kata Erani saat ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Jumat (19/9/2025).
Namun, Erani tidak menyebutkan kapan FS tersebut dapat diselesaikan. Pasalnya, setiap proyek memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda.
“Karena masing-masing proyek itu kan berbeda-beda tingkat kesulitan untuk menyelesaikan proyeknya itu. Mungkin yang misalnya refinery beda dengan storage, storage beda dengan yang alumina, alumina beda dengan silika, mungkin beda-beda ya,” jelas Erani.
Ia menambahkan, penyelesaian FS tersebut akan selesai secara bertahap, dan akan rampung secara keseluruhan pada Desember 2025.
“Ya saya kira pasti ini ya, pasti akan ada bertahap pasti ya. Tapi semuanya pasti akan selesai akhir tahun ini lah. Karena harus segera di-eksekusi proyeknya,” katanya.
Sebelumnya, 18 dokumen pra feasibility study (pra-FS) proyek hilirisasi dengan nilai investasi total sebesar USD38,63 miliar atau setara Rp618,13 triliun yang terdiri dari , 8 proyek hilirisasi di sektor mineral dan batubara, 2 proyek tentang transisi energi, 2 proyek ketahanan energi, 3 proyek hilirisasi pertanian serta 3 proyek hilirisasi kelautan dan perikanan.
Selain itu, keseluruhan proyek ini berpotensi menyerap 104.974 tenaga kerja. Proyek di sektor pertanian dan kelautan masing-masing menyerap 23.950 dan 67.100 tenaga kerja. Proyek transisi energi bernilai USD2,5 miliar dan menyerap 29.652 tenaga kerja.
Di sektor ketahanan energi, nilai investasinya mencapai USD14,5 miliar dengan potensi penyerapan 50.960 tenaga kerja. Secara keseluruhan, 18 proyek ini berpotensi menciptakan 276.636 lapangan kerja langsung dan tidak langsung.





