JAKARTA, BN NASIONAL
Program penyaluran alat masak berbasis listrik (AML) atau Rice Cooker oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada tahun 2023 menghadapi kendala dalam mencapai targetnya. Dari target awal 500.000 unit, pada akhir tahun 2023, hanya 342.621 unit atau sekitar 68,5 persen yang berhasil terlaksana, d iakui oleh Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM, Agus Cahyono Adi. Menurutnya, pembagian rice cooker telah mencapai tahap akhir, dengan jumlah tersebut sudah final.
“Sudah kalau itu sudah final jumlahnya,” kata Agus saat d iwawancarai di Kementerian ESDM, Rabu (31/1/2024).
Kendala utama yang menyebabkan tidak tercapainya target adalah keterbatasan waktu dan masalah pengadaan yang sudah melewati batas waktu yang d itentukan.
“Karena terkendala pengadaan, sudah lewat tahun jadi tidak bisa,” ujar Agus.
Pembagian rice cooker tidak merata, dengan wilayah Jawa-Bali mendapatkan porsi terbanyak sekitar 56% atau sebanyak 192.890 unit, d iikuti oleh Sumatra dengan 61.040 unit atau sekitar 17,82%. Kalimantan dan Sulawesi masing-masing mendapat porsi sekitar 10% dari total penyaluran, yaitu 35.307 unit dan 36.648 unit. Nusa Tenggara mendapat 7.456 unit, sedangkan Maluku dan Papua masing-masing mendapat 5.640 unit dan 3.637 unit.
Terkait rencana program di tahun 2024, Kementerian ESDM masih dalam tahap diskusi dengan DPR RI dan Kementerian Keuangan terkait revisi anggaran.
“Ngobrol lagi itu revisi anggarannya,” katanya.
Program penyaluran rice cooker ini memiliki potensi dampak yang signifikan, dengan potensi meningkatkan konsumsi listrik sekitar 140 GWh di seluruh Indonesia, setara dengan kapasitas pembangkitan 20 MW. Selain itu, program ini juga berpotensi menghemat penggunaan LPG sekitar 29 juta kilogram atau setara dengan 9,7 juta tabung 3kg.(*)





