JAKARTA, BN NASIONAL – PT Timah Tbk (TINS) perusahaan peleburan timah asal Indonesia berhasil menyalip kedudukan Malaysia Smelting Corp (MSC) sebagai perusahaan produksi logam timah di dunia.
Pada tahun 2024 TINS menduduki posisi ke-4 dengan total produksi logam timah sebanyak 18.900 ton, disusul MSC di posisi ke-5 dengan produksi sebanyak 16.300 ton.
Sebelumnya, pada tahun 2023 MSC menduduki posisi ke-4 dengan produksi sebanyak 20.700 ton, sedangakan TINS hanya 15.300 ton.
“Setelah bertukar tempat pada tahun 2023 , PT Timah dan Malaysia Smelting Corporation (MSC) bertukar lagi pada tahun 2024 karena produksi PT Timah pulih ke level tahun 2022 dan MSC mengalami penurunan tahun-ke-tahun terbesar dalam kelompok tersebut,” tulis Analis Senior Intelijen Pasar dari International Tin Association (ITA) Tom Langston dalam laporannya, Jumat (14/3/2025).
Menurut Tom, walau produksi TINS naik, namun secara keseluruhan industri timah di Indonesia sedang tidak baik-baik saja karena adanya kasus tata kelola timah.
“Pemulihan PT Timah terjadi di tengah tahun yang sulit bagi industri timah Indonesia, dengan produksi timah nasional turun 30,7%, karena penyelidikan negara terhadap dugaan penyimpangan historis dalam perdagangan timah memperburuk perizinan dan penundaan ekspor,” jelasnya.
Produksi logam timah dunia di tahun 2024 mengalami penurunan. Secara keseluruhan produksi timah olahan sebanyak 371.200 ton, perusahaan yang paling banyak produksinya, yakni Yunnan Tin di China.




