Senyumkan Masyarakat NTT Melalui PLTS

Jakarta, BN Nasional – Bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) air bersih merupakan kebutuhan dasar yang langka untuk didapat, mereka harus berjalan jauh demi mendapatkan air bersih untuk kehidupan sehari-hari. Permasalahan krisis air bersih selama bertahun-tahun belum terpecahkan hingga kini.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2018, menunjukan 73,8 persen desa/keluarahan di NTT atau 2.475 dari 3.353 desa/keluarahan mengalami tingkat risiko terhadap kekeringan yang tinggi hingga sangat tinggi.

DSC01630 1 1024x682

Organisasi non profit Solar Chapter membuat gerakan “IndonesiaMerdekaAir” yang bertujuan untuk membuat fasilitas sumber air bersih di desa yang masih sulit mendapatkan akses air bersih sejak 2017, Desa Umutnana dan As Manuela di Kabupaten Malaka, NTT.

“Kita dari Solar Chapter ingin masuk buat membantu gimana caranya biar warga-warga di desa ini gak perlu lagi jalan berjam-jam setiap harinya untuk memperoleh sumber air bersih. Maka dari itu kita masuk dengan Chapter One Water,” kata Director of Development Solar Chapter Peter Siborutorop kepada BN Nasional, Kamis (25/8/2023).

Provinsi NTT memiliki intensitas cahaya matahari yang tinggi, hal ini menjadikan Pembangkit Listrik Tenaga Solar (PLTS) sebagai energi untuk menggerakan mesin air sebagai sumber air bersih bagi masyarakat. PLTS menjadi sumber energi yang dapat digunakan tanpa harus tersambung ke jaringan PLN.

“Karena memang kebanyakan alasannya sama, kalau mereka tidak dapat fasilitas air gara-gara medannya cukup susah. Di Sumba itu rumah-rumah jaraknya berjauhan, sedangkan medannya udah cukup susah,” kata Peter.

Selain sumber yang melimpah, penerapan PLTS ini bertujuan agar masyarakat tidak kebingungan mengoperasikan dan merawatnya. “PLTS ini asalkan ada panelnya mereka tahu gimana buat matikan dan nyalakan san pompanya disambungkan, lumayan gampang untuk dirawat. Jadi itu kenapa kita membuat PLTS,” katanya.

Baca juga  Para Ilmuwan Telah Menemukan Bagaimana Nutrisi Penting Memasuki Otak

Setelah sukses mengimplementasikan di 18 desa, banyak senyum tercipta dari masyarakat yang mendapatkan fasilitas sumber air ini. Banyak kisah menyentuh dari masyarakat, membuat Solar Chapter terus melakukan kegiatan ini demi mewujudkan sumber air di desa-desa yang masih mengalami krisis air.

Copy Of IMG 6656 1 1 828x1024

“Ada slah satu bapak adat di desanya cerita ke kita, Indonesia sudah merdeka 78 tahun tapi mereka baru merasakan air bersih dekat dengan rumah, mereka rasanya benar-benar merdeka,” katanya.

Peter bercerita, ada sekolah yang kualitas sanitasinya hampir tidak ada, karena air cuman digunakan untuk kebutuhan dasar. Sekarang mereka sudah bisa menggunakan airnya untuk menyiram tanaman, minum, dan mandi, bahkan ada anak yang tidak mandi sebelum berangkat ke sekolah. “Apalagi kita air gampang yang tinggal nyalain aja, mereka itu benar-benar menghargai air,” katanya.

Solar Chapter dalam membangun fasilitas ini mengajak masyarakat untuk bergotong-royong membangun fasilitas sumber air ini, keterlibatan ini nantinya membuat masyarakat punya rasa memiliki dan menjaga. “Mereka ikut membangun panelnya, memasang peralatan, sampai setelah ini jadi kita dampingi mereka,” katanya.

Screenshot 2023 08 31 010809 1 1024x683

Kedepan, pembuatan sumber air menggunakan PLTS ini sudah direncakana Solar Chapter di berberapa lokasi. Provinsi NTT masih menjadi tujuan utama, namun tidak menutup kemungkinan merambah ke daerah lain yang membutuhkan juga. “Kita sudah lebih familiar dan sudah lebih kenal cara bekerja dengan orang-orang di NTT. Cuman, kalau kita memang ada kesempatan untuk di daerah lain dan juga ada orang yang lebih pahak untuk daerah lainnya, kita terbukan mengerjakannya disana,” katanya.

Baca juga  Tegas! Sekjen PBB Minta Rusia Tarik Pasukan dan Peralatan Militernya dari PLTN Zaporozhzhia, Larang Tentara Ukraina Masuk

Akses air bersih untuk seluruh masyarakat Indonesia menjadi mimpi masa depan bagi Solar Chapter, saat ini masih banyak warga yang harus membuang waktunya hanya untuk mengambil air, sedangkan di kota besar air mudah didapatkan.

DSC01658 1024x682

“Harapan kita seluruh Indonesia ngambil air bersih tidak perlu sesusah itu. Memang mimpi akhir kita, dan itu yang berusaha kita kerjakan menuju target itu bagaimana kita bisa membantu Indonesia akses air bersih,” kata Peter.

Saat ini, solar panel untuk menghasilkan listrik masih didapatkan dengan import dari negara lain, hal tersebut membuat harga dari panel masih dibilang mahal. Pengembangan industri solar panel dalam negeri harus segera terwujud untuk menekan harga. “Kalau dibandingkan pasar luar disana harganya mungkin lebih ok,” katanya.

Pengembangan industri solar panel di Indonesia sendiri sangat diharapkan dapat terwujud, Indonesia timur memiliki potensi pemanfaatan PLTS yang sangat besar untuk masyarakat.

Untuk mendukung pengembangan industri solar panel di dalam negeri,Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia berkunjung ke China untuk melihat fasilitas produksi milik Xinyi Group yang merupakan perusahaan terkemuka dalam industri kaca dan solar panel.

“Saya lihat Xinyi adalah salah satu pemain yang terbesar di dunia yang insyaallah akan melakukan investasi di Indonesia, di Rempang,” kata Bahlil dalam keterangan tertulis, Kamis (20/7/2023).

Mendatangkan Xinyi ke Indonesia mencerminkan komitmen pemerintah Indonesia untuk terus mendorong hilirisasi dalam berbagai sektor industri. “Selama ini kan kita telah melakukan hilirisasi nikel. Kita mempunyai komoditas pasir kuarsa, silika yang selama ini kita ekspor raw material. Dengan kita membangun ekosistem pabrik kaca dan solar panel, ini merupakan bagian daripada hilirisasi di sektor pasir kuarsa,” kata Bahlil.

Baca juga  Planet Eksosurya Ini Menyembunyikan Rahasia Besar: Ekor Sepanjang 350.000 Mil

Pemerintah berencana membangun industri solar panel yang terintegerasi dalam satu kawasan industri. Potensi energi surya yang besar dan perkembangan teknologi serta biaya yang ekonomis mendorong pemerintah untuk segera mewujudkannya.

Hal tersebut juga merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan target EBT pada bauran energi primer mencapai 23% dan porsi EBT pada kapasitas pembangkit sebesar 35% di tahun 2025.

Total investasi kawasan industri solar panel yang akan dibangun di Rempang, Kota Batam, Kepulauan Riau sebesar US$11,5 miliar atau setara dengan Rp173,51 triliun (asumsi kurs Rp15.088 per dolar US$) untuk mewujudkan hilirisasi dari pabrik kuarsa dan berberapa bahan baku lain yang ada di Indonesia.

Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana mengatakan, terdapat perusahaan lain yang berminat untuk berinvestasi di Indonesia selain Xinyi Group,

“Diluar yang itu ada, kalau setau saya yang Xinyi itu memang kan dari hulu banget, dari pasir kuarsanya langsung. Ada juga industri yang nantinya itu menghasilkan sel di kita, sel untuk PLTS. Apakah itu dari hulu atau enggak belum dapet updatenya,” kata Dadan di Kementerian ESDM, Selasa (8/8/2023).

Saat ini terdapat tiga perusahaan yang sudah memperlihatkan keseriusannya untuk tergabung dalam industri pengolahan pasir kuarsa menjadi solar panel di Indonesia.

“Setau saya ada dua sampai tiga perusahaan yang sudah menunjukan keseriusan. Sekrang lagi bekerja dengan partnernya yang di dalam negeri, kan waktu itu tanda tangan itu kalo gasalah, jadi antara business to business,” jelas Dadan.(Louis/ALP)