SKK Migas Upayakan Peningkatan Produksi Minyak Blok Cepu

JAKARTA, BN NASIONAL.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) tengah berupaya mengatasi penurunan produksi minyak di Blok Cepu yang d ikelola ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).

Kepala SKK Migas, Dwi Soedjipto, mengungkapkan bahwa produksi EMCL di Blok Cepu dan PHR di Blok Rokan mengalami penurunan sebesar 3.600 barel minyak per hari (BOPD). “EMCL dan PHR mengalami penurunan, terutama EMCL yang mengalami penurunan tajam,” kata Dwi dalam sebuah rapat dengan Komisi VII DPR RI pada Kamis, 30 November 2023.

Penurunan produksi minyak di Blok Cepu d isebabkan oleh sumur tua yang memasuki fase penurunan setelah mencapai puncak produksinya. Deputi Eksploitasi SKK Migas, Wahju Wibowo, memperkirakan produksi minyak di Blok Cepu akan turun menjadi 138.000-140.000 BOPD pada Februari 2024.

Oleh karena itu, SKK Migas berupaya mengantisipasi penurunan produksi. Salah satu langkah yang d ilakukan adalah melakukan pengeboran infill klastik pada Februari 2024. Pengeboran ini bertujuan untuk menambah cadangan minyak dan meningkatkan produksi.

Baca juga  Sekjen PBB Ingatkan Ancaman Krisis Kelaparan Global

Selain itu, SKK Migas juga berencana untuk mengkomersilkan produksi gas di Blok Cepu. Produksi gas di Blok Cepu saat ini masih belum d ikomersilkan karena masih dalam tahap pengembangan. Namun, SKK Migas menilai bahwa produksi gas di Blok Cepu dapat meningkatkan produksi minyak.

“Ketika produksi gas meningkat, produksi minyak juga akan mengikuti. Jadi, jika produksi minyak berkurang, d ipastikan sudah selesai,” kata Wahju.

Saat ini, rig untuk pengeboran infill klastik telah d imobilisasi dari Indramayu, Jawa Barat. Rig ini akan d igunakan untuk pengeboran di salah satu dari dua jalur sumur di Blok Cepu.

Wahju berharap upaya SKK Migas ini dapat meningkatkan produksi minyak di Blok Cepu. “Kami berharap produksi minyak di Blok Cepu bisa meningkat setidaknya 10.000 BOPD pada Februari 2024,” kata Wahju.(*)

Baca juga  Pesaing SpaceX Starlink Terganggu oleh Masalah Darat dalam Upaya Cakupan Global