Caption: Presiden RI Joko Widodo bersama Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengunjungi tambang PTFI di Tembagapura
JAKARTA, BN NASIONAL – Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia membuka peluang PT Freeport Indonesia (PTFI) mendapatkan relaksasi ekspor konsentrat tembaga sampai Desember 2023.
Adapun, pemerintah sudah memberikan relaksasi ekspor hingga 10 Mei 2024 dari yang sebelumnya ditetapkan oleh Undang-Undang (UU) Nomor 3 tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
“Sebenarnya boleh saja, tapi pastikan ada sanksi yang mereka dapatkan karena kita kan sudah setop,” kata Bahlil dalam diskusi bertajuk ‘Hilirisasi untuk Negeri’ di Jakarta, Senin (11/12/2023).
Bahlil menilai, relaksasi dapat diberikan kepada perusahaan, tapi harus ada kompensasi yang dibayarkan kepada negara sesuai dengan aturan yang berlaku.
“Aturannya seperti apa ada pada Kemenkeu dan ESDM. Tapi saya yakin negara tidak bisa lagi diatur oleh pengusaha, pengusaha harus diatur oleh negara lewat aturan.
Sebelumnya, Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan, pihaknya masih memperjuangkan relaksasi ekspor hingga Desember 2024 saat smelter barunya beroperasi 100 persen.
“Harapan kami relaksasi ekspor konsentrat tembaga dapat terus diberikan sampai smelter tersebut beroperasi penuh,” kata Tony saat mendampingi Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan di Kawasan Ekonomi Khusus Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur, Selasa (28/11/2023).
Smelter kedua PTFI dijadwalkan akan mulai beroperasi pada akhir Mei 2024 dan secara bertahap ramp-up produksi penuh hingga Desember 2024.
“Progres smelter saat ini diperkirakan mencapai 83 persen. PTFI terus menyelesaikan berberapa pekerjaan guna penyelesaian konstruksi fisik pada akhir Desember 2023,” kata Tony.
Pada awal 2024 nantinya akan dilakukan pre-commissioning dan commissioning untuk memastikan seluruh peralatan dan fasilitas berfungsi.
“Kami optimis proyek pembangunan smelter akan selesai sesuai jadwal,” ujarnya.
Dalam pembangunan smelter kedua ini, PTFI menggelontorkan investasi $US 2,9 miliar atau setara Rp43 triliun per akhir Oktober 2023. Target investasinya sendiri sebesar $US3 miliar.
Setelah beroperasi penuh, smelter mampu mengolah konsentrat tembaga dengan kapasitas produksi 1,7 juta dry metric ton (dmt) dan menghasilkan katoda tembaga hingga 600.000 ton per tahun. (LBY)





